Showing posts with label keluhan. Show all posts
Showing posts with label keluhan. Show all posts

Monday, May 2, 2011

Pendidikan (Bukan) Sampah

Selamat hari pendidikan nasional.

Meresapi kata-kata pendidikan nasional, terkadang saya masih merasa miris dengan pendidikan di Indonesia. Selain kata mahal, entah kenapa banyak anak yang kurang—cenderung tidak, malah—menghargai makna dari pendidikan. Mungkin bagi mereka pendidikan hanya secuil harta yang bisa mereka beli dengan uang. Sehingga tak perlu bersusah payah untuk membuang-buang waktu terhadap satu hal bernama sekolah atau kuliah.

Jika mendengar adik saya bercerita mengenai teman-temannya yang tidak naik kelas, atau sama sekali tidak belajar dan seringkali mangkir dari jam belajar, kadang saya suka mencibir terhadap mereka. Kok ya enak banget bersikapnya? Masih bagus punya orangtua yang mampu membiayai pendidikan yang mahal, tapi mereka malah menyia-nyiakannya dengan memilih bersenang-senang dengan teman yang lain, ramai-ramai membolos, atau ramai-ramai membuat ulah. Seakan, tanpa melakukan hal-hal semacam itu, namanya tidak eksis sebagai seorang pelajar.

Memangnya sekolah mahal-mahal untuk berjuang mendapatkan eksis?

Okelah, jika eksis karena otak cemerlang, tapi tidak malukah jika eksis karena kasus berderet di dalam list buku?

Entah apa yang terjadi pada anak-anak sekolah jaman sekarang.

Sementara di belahan lain, banyak orang yang mengharapkan sekolah dan bisa duduk di bangku gedung yang nyaman untuk belajar, tetapi tidak bisa. Orangtua tak punya uang, gedung sekolah justru malah mau digusur tanpa kepedulian dari pemerintah setempat, atau persengketaan tanah bangunan gedung sekolah yang ujung-ujungnya diributkan karena masalah uang. Apalah arti semua itu?

Sekolah memang tidak menjamin masa depan seseorang untuk melanjutkan hidup. Tapi, setidaknya pantaslah kita yang mengenyam pendidikan hingga jauh sampai ke negri orang, untuk bersyukur bahwa kita masih bisa mengenyam ilmu dengan fasilitas yang lebih dari kata cukup.

Saya hanya berharap, hari pendidikan nasional ini bisa membuat para pelajar sedikit demi sedikit mulai menghargai arti sebuah pendidikan. Jika tidak, maka hancur sudah negri ini.

Wednesday, March 2, 2011

Harganya seratus ribu!

Sejujurnya saya heran. Bukan sekali atau dua kali mendapati kejadian seperti ini.

Jadi, saya datang ke sebuah toko atau rumah makan sederhana, menikmati jasa atau membeli barang di dalamnya, lalu ketika bertanya berapa harganya, si penjual akan menerapkan tarif yang agak tidak masuk di akal untuk sebuah jasa / barang tersebut.

Kemarin ini, berbekal hasrat untuk membuat sebuah dress mengkopi model hanbok (pakaian tradisional Korea) modern, saya pun pergi ke sebuah tukang jahit di depan komplek perumahaan. Berdasar rekomen dari teman yang memuji hasil si penjahit itu, saya menjadi tertarik, ditambah lagi jarak yang tak terlalu jauh. Saya datang ke studio kecilnya yang berupa sebuah rumah tinggal. Konsultasi dan ukur-ukur pun terjadi. Tak ada masalah. Sampai ketika perhitungan pun dimulai. Saya shock begitu melihat harga akhir yang harus saya bayar untuk hanbok modern yang saya inginkan. Harganya 480.000 saja!! *nada saja-nya dibuat sarkasme*

Kebiasaan orang Indonesia pun keluar. Tawar-menawar dilakukan.
Sayangnya, tak ada pengurangan yang sangat berarti. Hanya berkurang 50.000.

Saya pun berpikir, mungkin memang segitu harusnya. Tapi, saya mendapat selintingan pendapat bahwa harga segitu termasuk MAHAL untuk ukuran penjahit rumahan.

Masalahnya, harga yang dia tawarkan tidak include dengan fabric!

Alhasil saya pun putar otak. Saya pun mencari bahan yang saya inginkan, sambil berpikir ulang soal menggunakan jasa penjahit itu atau mencari penjahit lain.

Pada akhirnya saya menelpon salah satu teman kuliah yang kebetulan Ibunya seorang penjahit juga. Kalau bukan karena masalah jarak, sejak awal saya sudah minta tolong beliau menjahitkan hanbok saya. Dan, padanya saya bercerita soal harga setinggi itu. Beliau pun shock. Katanya itu bukan saja mahal, tapi MAHAL BANGET. Okelah kalau dia sekelas Ivan Gunawan, Anna Avante, atau desainer yang lain.

Dari situlah saya kemudian merujuk pada si Tante ini. At least, beliau bisa memberikan harga teman karena saya dan anaknya sudah kenal lama *nyengir*

Sekarang bahan yang sudah saya beli itu, bertengger manis di rumah teman saya, menanti giliran untuk disulap menjadi dress sederhana berbentuk seperti hanbok di tangan Tante itu.

Hasilnya bagaimana, saya belum tau.

Tapi, setau saya hasil jahitan beliau memang rapih dan bagus di badan.

Dari kisah saya itu, saya cuma kebingungan saja. Kenapa ya, para pedagang tak pernah segan untuk "menggetok" harga sedemikian mahal seenak hatinya? Apakah karena saya mudah ditipu atau apa, saya nggak tau. Cuma saja, saya tidak terlalu suka pada orang-orang sombong yang mentarifkan harga selangit seenaknya saja. Yah, setidaknya begitulah apa yang menjadi pendapat saya.

-picture taken from http://saranghenamja.blogspot.com/2010/12/snsd-hanbok.html-

*kira-kira seperti inilah hanbok modern yang mau saya buat*
:)

Thursday, February 10, 2011

Satu Satu Saja

Belakangan ini saya keteteran!
Mungkin ini merupakan dampak dari ketidakfokusan saya pada satu hal. Pemikiran bodoh saya mengatakan, kalau saya bisa mengerjakan beberapa hal sekaligus, belajar beberapa hal sekaligus, maka semua yang saya harap-harapkan bisa terealisasi. Tidak berharap menjadi mahir atau sempurna, paling tidak saya punya basic-nya. Tapi, nyatanya saya malah kebingungan sendiri.

Waktu itu bersama seorang teman, merencanakan waktu seharian untuk bersenang-senang sekaligus menimba ilmu. Waktu seharian itu kami menghabiskan bersama untuk makan ramen dan sushi. Dua hal itu bisa terealisasi karena kami tau kami butuh makan. Tapi, rencana yang satu lagi, yaitu mengulik kembali pelajaran bahasa Jepang dan Korea sekaligus, malah batal. Berakhir hanya dengan duduk-duduk, transfer harta karun, sambil berleye-leye dengan perut kenyang karena habis makan tanpa kenal situasi xDD

Di satu sisi puas, di sisi lain kecewa.

Puas, hasrat menyantap dua makanan favorit tersalurkan, kecewa karena ajang belajar kami jadi tertunda ke minggu-minggu berikutnya yang entah kapan, kami sendiri belum tau.

Saya sendiri ingin sekali menghilangkan kebiasaan memborong kegiatan dalam satu waktu itu. Tapi, rasanya masih sulit. Kadang, saya berusaha fokus pada satu hal, tapi di tengah jalan, fokus itu seperti samar, lalu malah pindah ke hal lainnya. Payah, memang. Tapi, mau gimana lagi, masih belum bisa sepenuhnya fokus pada satu hal.

Monday, December 13, 2010

E.L.E.G.I H.A.T.I


Jujurnya, dia lelah.
Seluruh tubuhnya, setiap bagian dari organnya, bahkan utas-utas syaraf itu pun terasa lelah. Jika dia bisa, dia ingin memenuhi permintaan hati. Dia bilang, dia ingin manusia tahu bahwa keberadaannya tak layak dilirik. Cukup dirasakan. Namun, harapan itu hanya akan bias, sama seperti indera perasa yang tak akan mampu menyentuh permukaan hati seutuhnya.

Ketika lelah, seharusnya beristirahat.
Tapi, kelelahan itu justru membangkitkan monster yang selama ini tidur nyenyak di dalam gua tanpa raga itu. Dia berontak, kenapa tidak ada seorang pun yang membuatnya merasa nyaman di sana? Desakan-desakan itu seolah memaksakannya menjadi semakin liar, padahal monster itu ingin menjadi malaikat. Cetusan itu mengalir begitu jernih dan polos seperti anak kecil yang ingin menjadi dokter. Tanpa pernah tahu situasi apa yang menunggu di masa depannya.

Dia yang berkata sendiri. Dia yang melanggar sendiri.

Dan, dia cuma memohon pada situasi. Dia ingin berdamai dengannya. Tolong, jangan desak dia.



picture taken from

Saturday, December 11, 2010

Gemuruh Itu Bernama Amarah

debum..., debum..., bunyinya seperti itu.
Dan, gertakannya menggetarkan rongga dada. Hanya saja kamu terhalang oleh satu dan lain hal. Maka itu, matamu pun tertutup untuk bisa merasakan sinyal-sinyal yang ada. Tapi, tahukah kamu ketika gemuruh bernama amarah itu melanda, sekuat tenaga saya berlari.

Karena saya tidak ingin kehilangan kesempatan.

Sunday, August 1, 2010

Tempat Yang Seharusnya

Halooo, berjumpa lagi dengan saya, Clara. Hakakaka~ setelah sekian lama tidak memposting, akhirnya saya kembali berhadapan dengan lembaran kosong di new post. Dan, kali ini saya hanya ingin memuntahkan uneg-uneg yang kerap kali menghantui saya belakangan, baik yang masuk ke dalam topik pembicaraan diantara beberapa kawan, maupun yang hanya melalui media.
Apakah itu?

Semua diawali ketika perbincangan dengan teman kantor disela-sela menunggu materi kerjaan. Sambil menikmati secangkir kopi dan semilir angin subuh, komunikasi kami mulai masuk ke topik mengenai kecelakaan dan yang paling dekat hubungannya dengan hal itu, Rumah Sakit.

Sebenarnya, apa sih fungsi Rumah Sakit? Bukankah seharusnya tempat itu menjadi sebuah mediasi penyembuhan bagi orang-orang tak berdaya yang membutuhkan penanganan? Kenyataannya (di Jakarta khususnya) berkata lain. Saya tak melihat fungsi sebenarnya dari tempat yang katanya berdiri di atas visi untuk menyelamatkan nyawa manusia itu. Sudah terbukti bahwa kebanyakan Rumah Sakit yang ada hanya dibangun dalam rangka menambah jumlah bangunan di Jakarta sekaligus menjadi lubang untuk mengeruk materi sebanyak mungkin. Dan, menurut saya, Rumah Sakit tak kalah seperti pemerintah dalam menyiksa rakyat yang tidak memiliki kelebihan dalam hal materi.

Apa saya hanya asal mengeluarkan pendapat secara subjektif?
Tidak. Penuturan orang yang kecewa dengan pelayanan sebuah Rumah Sakit sudah banyak saya dengar. Dan, kalau terus begitu, lebih baik gusur saja Rumah Sakit-Rumah Sakit yang mengkambinghitamkan nilai sosial hanya untuk menutupi keinginan mendapat uang lebih banyak.

Teman saya pernah punya pengalaman. Dia dan beberapa kawannya sedang mengendarai mobil menuju sebuah tempat (saya lupa tujuannya). Disebabkan oleh kelalaian atau apa, tiba-tiba mobil oleng dan terjadilah kecelakaan itu. Salah satu kawannya mendapat luka paling parah dan segera dilarikan ke Rumah Sakit. Dengan kepanikan luar biasa, mereka pun membawa korban ke UGD yang katanya adalah Unit Gawat Darurat--dimana pertolongan pertama SEHARUSNYA diberikan kepada pesakit. Tapi yang ada, teman mereka yang bahkan banyak mengeluarkan darah di bagian kepalanya, tidak digubris sama sekali. Dokter jaga dan perawat hanya mondar-mandir, (sok) sibuk mengurus yang lain. Entah apa. Salah satu perawat hanya bilang, "Harus mengurus BIAYA administrasinya dulu."

Ya Tuhan..., orang yang sedang terkapar dengan darah terus mengucur dan sedang bertaruh akan nyawanya, hanya didiamkan begitu saja seolah-olah orang itu cuma terserang demam! Inikah fungsi Rumah Sakit yang katanya ada untuk menyelamatkan nyawa manusia??

Tak ada pilihan lain. Meski tak punya uang cukup, tapi karena rasa sayang pada temannya, mereka pun mengumpulkan sejumlah uang yang ada di kantong mereka. Setidaknya sebagai jaminan bahwa akan ADA YANG MEMBAYAR SI KORBAN nantinya. Setelah DP (duhhh, dikira beli mobil apa??) pun baru si korban mendapat penanganan.

Lain halnya dengan penuturan teman saya mengenai almarhum ayahnya yang mengalami kecelakaan cukup parah di daerah Bintaro. Cukup parah. Mungkin sudah ada diantara hidup dan mati. Tapi, pihak Rumah Sakit tempatnya dibawa hanya menyuruh korban untuk stay di ruang rawat biasa. Sampai teman saya harus tarik otot, "Pasien ini lukanya parah, dok!" Barulah korban mendapat pertolongan di ICU. Itu punnnnn, hanya bermodal infus dan selang-selang yang entah untuk apa. Tak ada operasi. Tak ada penanganan lebih lanjut. Hingga akhirnya nyawanya tak lagi bisa ditolong.

Belum lagi sekarang ada kerabat orangtua saya yang masuk Rumah Sakit karena penyakit demam berdarah. Dia bukan orang yang berkecukupan. Hanya seorang hansip di perumahan. Bisa dikira-kira bagaimana kondisi keuangannya. Dan dia harus membayar uang Rumah Sakit sebesar 1 juta PER HARI. Demam berdarah, paling tidak membutuhkan waktu hingga 1 minggu. Darimana dia bisa mendapat uang 7 juta hanya untuk pengobatan, sementara setiap harinya harus pontang-panting mencari uang untuk menyekolahkan anaknya??

Saya benar-benar prihatin dengan kondisi Rumah Sakit saat ini. Miris benar dengan keberadaan mereka. Untuk apa? Hanya untuk menyelamatkan nyawa orang-orang berduit sajakah? Yah, jaman sekarang memang, istilahnya nyawa bisa diperjualbelikan dengan uang. Dan itu sangat ironis sekali.

Saya tak ingin menyinggung pihak mana pun.
Bagi saya, fungsi Rumah Sakit dan kawan-kawannya sudah mulai bergeser. Saya benci melihat kenyataan itu. Tapi bisa apa? Saya juga bukan dokter, tak bisa menyembuhkan orang sakit. Saya juga bukan Tuhan, yang sekali sentuh, apa pun perkataan-Nya bisa terjadi. Saya hanya berharap kondisi Rumah Sakit bisa diperbaiki. Sesuaikan dengan visi dan misi seharusnya. Tak hanya menambah jumlah bangunan Rumah Sakit, seperti yang sekarang sedang dikerjakan di dekat rumah saya. Ada dua Rumah Sakit yang sedang dalam proses pembangunan. Lantas untuk apa? Semoga jawabannya bukan untuk materi.

Mengingat soal Rumah Sakit dan kawan-kawannya, saya lantas teringat dengan drama Jepang berjudul Code Blue. Tak hanya dokter, bahkan perawat, semuanya menjalankan tugas memang khusus untuk nilai kemanusiaan. Dan mereka sangat menjujung tinggi hal itu. Adakah hal yang seperti itu di Indonesia? Saya harap akan ada yang mengangguk. Paling tidak satu diantara ribuan.

Wednesday, July 7, 2010

Kafeinholic

Berapa kali Anda mengkonsumsi kafein dalam sehari? Seminggu? Atau sebulan?

Jujur, saya sangat sangat membutuhkan yang namanya kafein. Istilahnya tiada hari tanpa kafein. Hanya beberapa hari dalam seminggu yang saya paksakan untuk tidak mengkonsumsi senyawa alkolid xantina berbentuk kristal ini. Efeknya sungguh mengecewakan. Ketergantungan telah menggiring saya pada taraf 'harus memakai' dan jika tidak dampaknya adalah saya akan mengantuk lebih parah dibanding ketika tidak mengkonsumsi. Semuanya memecut saya untuk memberikan rasa terima kasih untuk Friedrich Ferdinand yang telah menemukan kafein ini.

Biasanya dalam satu hari saya akan meneguk sekaleng atau segelas kopi instant. Seperti sebuah undang-undang, hal meminum kopi rasanya sudah seperti aturan yang wajib dilakukan. Seperti orang yang membutuhkan koin lima ratus perak untuk bisa menggunakan fasilitas telepon umum. Selayaknya bayi mungil yang wajib mengisi perutnya dengan air susu dari sang Ibu. Kira-kira selebay itulah saya menggambarkannya. Bagi saya, minum kopi memang sudah keterbiasaan, yang jika absen dilakukan rasanya ada yang terlewatkan dalam hari itu.

Atau jika bukan kopi, kegemaran meminum teh juga membantu memperkaya kafein dalam tubuh saya. Es teh tawar atau teh hangat. Daun teh yang mengandung kafein dan menjadi bahan utama untuk membuat segelas minuman favorit saya itu, sama-sama memberikan sensasi berbeda ketika saya menikmatinya. Meski memiliki kasiat yang berbeda pada tubuh saya, tetapi keduanya memiliki senyawa kimia yang sama. Dengan zat psikoaktif yang ada, maka saya merasakan manfaat yang cukup besar. Paling tidak saya bisa lebih bersemangat dalam melalui satu hari penuh. Dan, bahkan bisa dari pagi ketemu subuh. Tanpa efek kepala pusing. Hanya badan sedikit pegal-pegal seperti nenek tua yang bisa hilang jika saya tidur dengan sebelumnya mengusapkan minyak angin pada tubuh.

Hari ini, entah salah satu keberhasilan yang lain atau tidak, tapi saya mampu menahan diri untuk tidak mengkonsumsi kopi. Oh, oke. Sebelum postingan ini ditulis, saya baru saja memesan es teh tawar sebagai teman makan malam (ayam bakar) saya di kantor. Tapi, tidak dengan kopi. Seharian ini tak satu teguk pun cairan coklat itu mengalir di tenggorokkan saya. Efeknya memang tak terlalu bagus. Saya diserang ngantuk yang cukup kuat selama seharian di kantor. Disamping mata yang lelah karena harus melakukan preview yang lebih banyak dari biasanya karena teman saya ijin tak masuk.

Mata saya lelah, meski sebenarnya tubuh saya tak begitu letih.
Dan, disela-sela semua itu, saya menyempatkan diri untuk posting.

Monday, May 31, 2010

Kekuatan Doa

Semua orang tau kekuatan doa itu sangat dasyat. Ya, dan itulah yang memang saya alami.

Postingan kali ini agak sedikit religius (akhirnya bertobat juga si clara XD), tapi ini mungkin merupakan kesaksian yang saya rasa bisa menjadi salah satu motivasi bagi siapapun yang pernah mengalami kehilangan arah seperti saya.

Dalam agama saya (Katolik), ada sebuah novena dimana kita sebagai umat berdoa dan memohon kepada Bunda Maria sebagai perantara kepada Tuhan Yesus. Namanya Novena Tiga Salam Maria. Dari kesaksian di gereja, banyak sekali yang doanya terkabul berkat novena ini. Karena hal itu pun, saya akhirnya mencoba untuk berdoa novena ini. Dan, puji Tuhan, doa itu sungguh terkabul!

Tapi, rupanya memang Tuhan itu selalu punya rencana.

Tuhan itu nggak mau kalau saya menerima "berkah"Nya itu dengan begitu saja. Dia pengin memberikannya sebagai kejutan untuk saya. Dia juga pengin saya berserah total kepada-Nya. Dan begitu waktunya sudah tepat, maka Tuhan akan mengirimkan hadiah itu pada saya.

Ya, rencana Tuhan memang tidak bisa ditebak.
Meski bukan saya namanya kalau tidak muncul kekhawatiran-kekhawatiran lain, tapi mencoba untuk berserah adalah jalan yang terbaik.

*sighhhh*

Satu pelajaran yang saya bisa ambil adalah bahwa usaha dan doa saja tidak cukup, tapi berserah dan pasrah itu juga sangat diperlukan. Berserah dan pasrah adalah bukti bahwa kita sangat mengandalkan Tuhan.

PS: Buat yang masih mau ikutan Rain Affair Contest, hayukkkk, buruan. Tanggal 7 Juni adalah batas akhirnya. Jangan lupa buat yang sudah ikutan, cek lagi nama kalian di Peserta Mini Kontes Rain Affair.

Monday, May 24, 2010

Bertemu Satu Titik

Pada saat ini, sampailah saya di titik yang bernama : nggak tau mau ngapa-ngapain sementara otak kepentok jalan buntu!

Plis, plis, plis...
Butuh refireshing untuk dapat ide *grin*

Monday, April 5, 2010

Hubungannya Dengan Karma

Seringkali orang berkata, "hati-hati, nanti kena karma, lohhh."
Sebenarnya, karma itu ada atau nggak, sih? Kalau saya, bisa dibilang secara pribadi saya percaya dengan yang namanya karma. Kenapa? Karena istilahnya nggak ada yang gratis di dunia ini. Pipis aja bayar, apalagi perbuatan kita yang bisa dibilang dicatat oleh malaikat. Semua ada resiko. Selalu ada akibat dari sebuah sebab.

Lagipula, kalau nggak ada karma, darimana kita bisa belajar tentang hidup? Itu, sih menurut saya saja. Anggap saja karma ini memberikan sebuah makna dari keputusan yang sudah kita pilih. Salah atau benar bukan masalah. Yang penting bagaimana menanggung akibat dari semua itu. Dan bagaimana kita melewatinya.

Kenapa saya menulis tentang hal ini?

Soalnya saya merasa belakangan ini saya baru saja kena karma atas sikap saya sendiri.

Saya tau saya salah. Seharusnya saya nggak bersikap begitu terhadap orang itu. Dan..., yah karena itulah saya mendapat balasan yang sama dari orang lain--darinya. Hingga rasanya saya bener-bener menyesal. Sangat menyesal hingga rasanya sesak banget.

Sungguh, deh. Kalau bisa diulang, saya mau mengulangnya. Saya mau melakukan apa saja supaya dia juga nggak bersikap yang sama terhadap saya. Tapi..., saya nggak bisa. Kisah hidup saya bukan cerita dalam novel yang bisa di-edit setiap saat.

Lagipula, toh, ketika saya berpikir lagi, mungkin jalan ini justru yang terbaik. Saya sedang dalam tahap berusaha menerimanya. Apa pun kejadian nanti, saya mencoba untuk menerima.


PS: Untuk orang itu, saya minta maaf. Tapi...bisakah dia tidak bersikap seperti itu pada saya?

Saturday, April 3, 2010

Ketika Sesuatu yang Tidak Boleh

Beginilah jadinya.
Saya terpojok atas sesuatu yang ada di dalam perasaan saya, namun tidak (bisa) diungkapkan. Bukan diri saya yang melarangnya, terlebih datang dari beberapa faktor eksternal yang membuat saya bertahan membeku sendiri. Hingga tidak bisa menuliskan apa pun di postingan ini. Maaf untuk ketidaknyamanan ini...*nyengir selebar-lebarnya*

Padahal ada begitu banyak hal yang ingin saya tulis. Padahal banyak yang bisa saya kisahkan. Tapi semuanya hanya bisa saya pendam sendiri. Kadang tersiksa. Ahhhh...saya jadi aneh belakangan.

Tapi, yang jelas, kalau saja ada sesuatu yang bisa mengatasnamakan rindu yang tak terbendung ini, saya ingin mengirimkannya bersama angin. Dan, andainya ada yang mampu menjawabkan pertanyaan ini : apa saya begitu buruk untuknya? saya cukup berterimakasih. Saya bisa pergi. Mungkin.

PS: Beberapa hari ini harus jadi anak baik dengan rajin pergi ke gereja *ketawa nyengir* maklum, tri hari suci (kamis putih, jumat agung dan sabtu paskah) merupakan saat-saat yang selalu penting bagi saya. Menyentil saya untuk tetap teringat pada pengorbanan Tuhan Yesus yang begitu luar biasa.


"Selamat Hari Paskah"
Tuhan Yesus Memberkati

Wednesday, March 31, 2010

I Have A Dream

Dunia itu berputar. Begitu pula dengan kehidupan. Kegagalan dan keberhasilan bagaikan saudara kembar yang tidak mau dipisahkan. Ada banyak hal yang membuat kita gundah, kecewa, sedih, menangis atau sekali pun tertawa di luar sana. Tapi, kembali pada diri kita, apakah bisa kita menghadapinya dan bagaimana kita menghadapinya.

Saya punya mimpi.
Begitu juga kamu.
Semua orang punya mimpi yang ingin dicapai dalam hidup ini. Namun, tak jarang mimpi itu tampak begitu jauh. Seperti permainan uang yang diikat dengan tali, setiap kita mencoba meraihnya, uang itu bergerak menjauh. Kita butuh usaha dan kejelian untuk bisa menggapai dan menggenggamnya. Sebelum dia benar-benar pergi.

Saya teringat dengan lagu I Have A Dream yang dipopulerkan ABBA lalu Westlife dan yang sekarang saya suka adalah Connie Talbot (Britain's Got Talent 2007).

I have a dream, a song to sing
To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail

I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angels
When I know the time is right for me
I'll cross the stream I have a dream

I have a dream , a fantasy
To help me through reality
And my destination makes it worth the while
Pushing through the darkness
Still another mile

Intip Versi Connie Talbot, deh. Anak ini lucu banget.




Bercermin dari lagu itu, saya merasa bahwa ada kekuatan baru yang bisa mendorong saya untuk bangkit dari semua keterpurukan yang ada. Tidak boleh ada kata gagal, yang ada hanya keberhasilan yang tertunda. Atau..., waktunya memang belum tepat.

Semoga saja...


PS: Jadi mendadak teringat dengan Sang Pemimpi.

Sunday, March 28, 2010

Senyuman

by : Clara

Kata orang, senyum itu ibadah.
Kata orang, senyum itu obat awet muda.
Kata saya, senyum itu segalanya.

Sepertinya akhir pekan saya ini banyak diisi dengan senyuman. Lucu juga. Apalagi kalau diingat-ingat dengan postingan melow saya yang rasanya kalau keseluruhan postingan ini dibuatkan grafiknya, maka akan tampak garis naik turun yang tak beraturan. Dan begitulah keadaan mood saya. Tapi, meski diawali dengan kelabu, maka akhirannya akan menjadi cerah, meski justru keadaan cuaca malah sebaliknya dengan keadaan mood saya. Mendung terus, lalu hujan. Tapi, mana saya peduli?

Benar. Senyuman itu bisa punya kekuatan yang sangat dasyat.
Daripada minum minuman penambah semangat seperti yang ada di iklan-iklan, mending mencari setitik senyuman dalam wajah seseorang. Rasa semangat yang kembali akan jauh lebih banyak ketimbang meminum minuman energy tersebut.

Karena sesuatu yang dari hati, kekuatannya jauh melebihi apa pun.

Dan karena senyumannya, maka saya merasa telah mendapat sesuatu yang membangkitkan semangat saya.


saya ingin terus tersenyum (sepertinya)

Postingan ditulis dengan kondisi perut kembung yang mengganggu. Mungkin kebanyakan makan kubis, dimana sebaiknya penderita maag tidak makan kubis terlalu banyak. Huhuhu....

Kok gambarnya dogy? (^0^)

Wednesday, March 24, 2010

(Not Just) Best Friend, Forever

by : Clara

Sering banget saya mendengar kata-kata seperti ini : best friend forever. Biasanya ditulis besar-besar di buku harian, di pigura, di buku catatan, di tembok, di perut (tattoo) atau mungkin ada yang nulis di jidat, biar lebih abadi. Tujuannya cuma satu : mempatenkan bahwa si A adalah sahabat kita. Biar semua orang tahu, kalau perlu satu dunia tahu, A dan saya bersahabat. Seperti sebuah pengumuman penting yang mempromosikan status hubungan saya dan si A. Misalnya saja.

Kata-kata best friend forever ini juga menjadi ajang lomba-lomba bagi para produsen pernak-pernik untuk turut campur tangan ke dalam urusan persahabatan dua orang atau lebih ini. Bisa dengan bentuk gantungan kunci yang bertuliskan you're my best friend, forever atau apapun. Pokoknya, setiap pernik tidak ketinggalan mencantumkan kata-kata itu. Kemudian pernik ini diberikan pada sang sahabat pujaan hati. Maksudnya, biar dia tahu kalau dia itu sahabat kita. Maksudnya juga, biar dia tersanjung dengan "ketulusan" kita berteman dengannya.

Dulu, saya pikir semua itu tampak keren. Atau apalah namanya.

Tapi, seratus delapan puluh derajat terbalik pada masa kini. Apa dengan itu benar-benar tulus?

Apa pentingnya memberikan sepenggalan kata-kata you're my best friend, forever? Hari ini bilangnya teman untuk selamanya, tapi besok ketika kita sedang dirudung masalah dan bercerita pada 'si sahabat sepanjang masa ini', dia mendengar kegalauan hati kita sambil nguap-nguap. Lalu cuma bisa angguk-angguk burung beo. Dan setelah memberi waktu beberapa lama untuk bercerita panjang lebar, 'si sahabat sepanjang masa ini' buru-buru mengganti topik dengan cowok ganteng yang lagi dia taksir.


gambar dari sini

Semuanya...tampak hanya sebuah omong kosong belaka.

Buat saya, kata-kata itu telah menjadi kata-kata yang tidak memiliki maknanya lagi.

Saya pribadi tersanjung dengan sebuah persahabatan.
Dia selalu ada saat saya mau bercerita. Dia selalu mau mendengarkan keluhan-keluhan saya. Dia sering memarahi saya. Dia nggak pernah menuliskan you're my best friend forever di wall FB saya. Dia nggak pernah bilang kangen sama saya. Tapi saya tahu, itulah persahabatan dalam makna yang utuh, yang jauh lebih dalam ketimbang menyanjung seseorang dengan tulisan-tulisan itu.
Karena dia selalu ada. Karena saya tau dia tulus.

Best friend forever? Ke laut aja, kecemplung bareng, juga bakalan pisah. Apanya yang forever?

Tunjukkan kalau kamu memang seorang sahabat, secara utuh.
Kata-kata bisa saja tinggal kata-kata, tapi tindakan akan selalu meninggalkan jejak dalam otak.

Karena sahabat yang sesungguhnya, bukan diukur dari sebuah tulisan, tapi melalui hati dan tindakan.



Monday, March 22, 2010

Tanpa Ada Maksud yang Sebenarnya

by : Clara

Lagi-lagi saya merasa gamang.
Yak ampunnn, kenapa sih diri saya ini? Bener-bener seperti orang yang kehilangan akal sehat untuk berpikir. Segalanya tampak berantakan. Dan, saya cuma bisa terus menerus mengeluh di sini. Mau sampe kapan, sih? Mood...tolonglah kembali ke bentuk sediakala. Jangan terus-terusan bermain jungkat-jungkit. Saya capek. Saya takut nanti kamu jatuh dan membuatnya semuanya semakin berantakan lagi.

Pecah. Berkeping-keping. Lagi.

Sebenarnya hari ini saya merasa sangat jahat. Perasaan itu, saya bisa rasakan, tapi entah kenapa saya nggak bisa mengontrolnya untuk mencegah diri saya juga melakukan hal yang sama. Yang menyakitkan. Kacau semua. Kacau beneran.

Ditambah lagi, seseorang di sana juga turut membuat saya terpuruk.
Sepertinya, saya hanya punya satu solusi untuk menutup semua ini.


Pergi tidur.
Dan ada kalanya saya berharap ketika pagi mengetuk dunia, saya mampu tersenyum. Tulus.

Tuesday, March 16, 2010

Kamu kok Diam di Sana?

Nggak ada ide mau update apa.
Belakangan ini saya menyadari pola hidup saya yang aneh, juga diri saya yang aneh. Sampai Anyin pernah bilang kalau saya terlihat mellow plus dia juga agak bingung kenapa saya bisa saja online sampai jam 3 pagi (bahkan tadi saya hanya tidur 2 jam saja) padahal Anyin tau kalau biasanya saya itu suka tidur dan jam 9 saja bisa udah pules di ranjang. Bukan hanya pola tidur yang berubah, tapi juga pola makan. Sudah 3 hari ini saya hanya makan 1 kali dan nggak makan nasi, sampai akhirnya hari ini saya bisa kembali makan 2 kali sehari dan menyantap nasi meski hasilnya saya malah merasa mual. Kalau masalah mual, saya rasa sepertinya maag saya yang kena.

Tapi, kenapa semua itu berubah?
Saya nggak tahu. Atau, hati ini sengaja menyimpannya sendiri tanpa mau memberitahu diri saya. Kamu pelit sekali, hati.

Tadi, saya juga pergi karaoke lagi. Sengaja saya meminta teman saya untuk karaoke selama 4 jam. Tujuannya, saya ingin sejenak saja pergi dari "dunia" yang sedang saya hadapi. Namun, saya rasa usaha itu hanya sia-sia. Nyatanya, lagu-lagu itu sendiri, ada beberapa yang justru menendang saya kembali ke "dunia" saya. Menyentak saya pada apa yang ada--sebenarnya ada. Sungguh, saya bingung. Bingung dengan diri saya. Juga semua yang ada.

Sepertinya, jalan di hadapan saya sedang nge-blur. Saya tidak bisa melihat apa-apa.
Saya seperti tersesat dan terfokus pada satu titik terang saja.

Kalau memang harus pergi, maka pergilah. Tolong jangan usik saya.

Saturday, March 13, 2010

Radar yang Tumpul

by : Clara

Saya hanya ingin bilang, terima kasih karena kamu sudah bercerita banyak. Tentang dirimu. Apa pun itu, saya menguncinya di satu petak otak saya. Untuk semua mimpi-mimpi yang ada.

Kamar tidur, 13 Maret 2010 dini hari...

Semalam, saya chatting dengan adik angkat saya yang dulu sering sekali main ke rumah tapi karena sekarang dia kuliah di Bogor, jadi tidak ada waktu lagi untuk bermain bersama. Biasanya saya cukup panggil dia 'Con' tapi entah kenapa semalam saya panggil dia 'Nyong' hahahaha. Seperti biasa kalau chatting sama anak ini, saya pasti merasa bahwa dia adalah kakak saya. Dia selalu saja menasehati saya, padahal saya yang lebih tua dari dia. Yah, bukan masalah besar, tapi kadang saya suka geli, kok bisa-bisanya anak semeseter errr ... (berapa ya, Nyong? Lupa.) malah menasehati saya soal radar kepekaan saya yang agak-agak tumpul, katanya. Mungkin belum diasah ya, Nyong? Hehehehe ...

Sebenernya saya merasa memang kata-kata dia benar.
Saya pesimis dengan diri sendiri.
Saya pemalu.
Dan saya, tidak pernah bisa menguatkan radar saya untuk 'satu masalah' yang selalu dia permasalahkan dengan saya. Tapi saya juga tidak tahu harus bagaimana?

Yah, trauma. Dia tau saya punya trauma. Tapi, bagaimana menghilangkannya saya juga tidak tahu. Mungkin saya perlu dihipnotis oleh Bapak Romi Rapahel dulu? Atau bagaimana saya belum tahu. Satu kali saja, tapi lukanya belum bisa hilang dan membuat saya selalu takut mengalami hal itu. Terbayang-bayang.

Bagaimana pun saya bersyukur masih ada yang memperhatikan saya. Meski dia ini jadinya terasa cerewet sekali. Lebih cerewet daripada si Nchi. Hihihi. Padahal, giliran saya meminta dia cerita soal hubungannya dengan ceweknya yang sekarang entah bagaimana itu, dia nggak mau cerita sama saya. Dasar nggak adil banget sih, Nyong. Masa saya disuruh cerita, tapi kamu sendiri nggak cerita.

Dan atas semua kecerewetannya selama ini, saya janji sama dia saya akan berusaha menajamkan radar kepekaan saya. Khusus dalam masalah 'ini'.


--Nyong, ditunggu kabarnya. Kalau udah nggak hectic, buruan main ke rumah, dong.
Ajak yayangmu, tapi jangan jadikan saya obat nyamuk.



Monday, March 8, 2010

Multitasking Brain

by : Clara

Ada yang bilang, perempuan itu memiliki otak yang mampu berpikir beberapa hal sekaligus. Saya rasa memang begitu. Sebagai salah satu perempuan, saya pun kerap kali berhadapan dengan beberapa hal sekaligus. Tapi, hal itu bukannya membuat saya konsentrasi pada satu hal dan fokus, melainkan malah membuat pikiran saya bercabang. Memikirkan A dicampur B lalu ditambah C, lalu balik lagi ke A. Capek sendiri. Hmm, nggak juga mungkin. Saya sendiri selalu menikmatinya. Otak saya perlu dikasih beberapa hal untuk dibiarkan tetap bekerja a.k.a berpikir karena kalau nggak, isinya ya cuma hal-hal yang nggak berguna.

Sebelum akhirnya saya memutuskan untuk posting ini, saya sedang berhadapan dengan dua hal yang harus saya tulis namun berbeda kepentingan. Bukan, postingan ini sama sekali tidak termasuk dalam dua hal tersebut, dimana justru postingan ini adalah 'jalan tikus' dikala saya bingung harus belok ke kiri dulu baru ke kanan, atau sebaliknya.

Pada akhirnya, saya memilih untuk belok ke kanan dulu, baru besok belok ke kiri. Ada batas waktu untuk kedua hal tersebut, tetapi ketika saya lebih berminat pada bagian kanan, mau tak mau saya harus mendahulukan si kanan. Kalau mengukur dari segi prioritas mana yang harus didahulukan, saya tidak bisa memilih. Keduanya buat saya sama penting. Yang satu demi mengisi paypal saya supaya bisa terus bertambah sementara yang satu demi masa depan saya. Ya, dua-duanya penting dan saya berharap saya bisa terus berkonsentrasi juga bekerja keras, meski dengan otak yang bercabang.

Meski perempuan memiliki otak yang bekerja multitasking, saya yakin semua perempuan bisa bekerja dan menghasilkan segala yang terbaik. Karena semua fokus pada satu hal, yaitu : TUJUAN.





tulisan dibuat untuk juga mendukung
womans international day on March 8
th


Monday, March 1, 2010

3Gatsu

Mou san gatsu desu.



Shizuka na.





Demo, atashi wa dandan atashi jyanakunatte kita.

Soshite, Dare?



hanya tulisan iseng menyambut datangnya bulan Maret.
bulan ke-tiga, san gatsu.

Friday, February 19, 2010

Karena Pun Ada...

by : Clara

Ketika ada, maka diri tersia-siakanlah bagai pucuk bunga liar yang terbuai oleh angin.
Ketika tiada, maka diri bergerak gesit mencari bahkan hingga ke sela lubang cacing.

Itulah perbedaan orang kota dan orang desa.
Bukan bermaksud ingin merendahkan. Justru saya merasa salut karena saya tidak bisa seperti mereka. Hidup disekitar segala sesuatu yang bisa dikatakan telah tersedia dari sana, membentuk sebuah karakter yang (mendekati) malas, tidak mau berusaha, hanya duduk menunggu keajaiban dikirim via burung merpati oleh malaikat.

Merasa segala ada, menjadikan tempaan demi tempaan terasa begitu berat seperti sedang memasuki gerbang pelatihan militer yang tak kunjung habis. Sebenarnya siapa yang memperalat siapa? Manusia hanya dijadikan jajahan oleh kisah duniawi yang memanjakan diri. Bukankah seharusnya perang itu ditujukan antar manusia dan duniawi itu sendiri? Bukan manusia sesama manusia?

Maka ketika masyarakat pedesaan yang masih jauh dari segala macam bentuk bantuan yang memanjakan, mereka begitu gigih berjuang untuk mendapatkan semua itu. Cuma contoh kecil yang sempat melintas, daerah mereka tidak ada wahana seperti Dufan atau yang lain, tapi ketika impian untuk sekedar merasakan adrenalin yang dasyat saat melayang di udara bersama kora-kora, mereka mengumpulkan uang dengan kerja keras untuk bisa pergi ke Dufan.

Saya ingin bisa menjadi manusia yang berjuang keras untuk bisa meraih mimpi. Tidak ingin kalah hanya karena godaan cowok-cowok korea duniawi yang begitu memikat.


*Ngelirik ke atas*
Entah apa sih yang udah saya tulis. Sepertinya nggak nyambung. Tapi ya sudahlah, saya nggak tau lagi harus nulis dimana. Mau nulis di dinding, takut dimarahin ortu yang punya rumah. Nulis di diary, nggak punya. Diary saya ya online ini. Mau curhat ke Kyuhyun, dia lagi sibuk nyanyi.

Dan sebelum semakin melantur, saya ijin pamit.