Kepingan Jeju-do dari view finder saya!
Showing posts with label potret. Show all posts
Showing posts with label potret. Show all posts
Thursday, April 5, 2012
Korea in Picture 1
Kemarin saya sudah janji, ya, mau berbagi soal liburan di Korea Selatan. Saya pikir, biarkan gambar yang berbicara. Maka ini adalah tak seberapanya dari kepingan yang berhasil saya abadikan untuk dikenang. Inilah Korea Selatan, dimulai dari bagiannya. Pulau Jeju.
Kepingan Jeju-do dari view finder saya!




Kepingan Jeju-do dari view finder saya!
Saturday, April 16, 2011
Friday, March 25, 2011
Wednesday, January 5, 2011
Kenangan Merapi

Antriannya sangat panjang. Bahkan berkilo-kilo meter. Tapi, bisa dimaklumi karena sedang hari libur. Dan di perbatasan itu, kita harus membayar uang sumbangan sebagai tiket masuk sebesar Rp 5000 saja.


Langit di kaki merapi ini selalu berubah. Ketika masih cukup jauh (sekitar 7 km) dari gunung merapi, udara masih agak panas, langit terang dan bahkan terik matahari pun terasa. Tapi begitu mendekati gunung, langit berubah sedikit kelabu seperti mendung dan angin bertiup sangat kencang hingga saya menggigil kedinginan.



Tuesday, January 4, 2011
Kunjungan Pantai Jogja
Terlalu sibuk bermalas-malasan membuat saya lebih mengutamakan uang daripada blog TT__TT dan baru tadi ingat kalau saya janji mau posting soal liburan natal saya di kota Gudeg, Jogjakarta. Tak pernah bosan saya datang ke kota ini, meski ramai, tapi tak mengingkari janji untuk menyajikan sisi lain yang berbeda dari Jakarta--bagian terpencil yang dipenuhi hanya dengan ketenangan. Salah satunya adalah pantai.
Nama pantai ini adalah Kwaru. Kata saudara saya sih, pantai ini belum lama ditemukan dan diresmikan sebagai tempat wisata yang tak boleh ketinggalan dikunjungi. Dan berangkat bersama sepupu serta adik sendiri, akhirnya saya tiba di pantai ini. Hmmm..., jujur saja, tak begitu spesial dari pantai ini. Penuh dengan air laut, pasir, hamparan langit yang menyatu dengan ujung bumi, awan, udara lengket, orang-orang. Apa lagi, ya? Ohhh, ada beberapa wahana seperti kolam renang dan mini ATV yang bisa dinikmati.
Tapi bagaimanapun, istimewa atau tidak, yang namanya pantai tetap memiliki pesona tersendiri yang tidak ada habisnya.




Dan, masih ada beberapa tempat lainnya. Salah satunya adalah Merapi. ^^
Nama pantai ini adalah Kwaru. Kata saudara saya sih, pantai ini belum lama ditemukan dan diresmikan sebagai tempat wisata yang tak boleh ketinggalan dikunjungi. Dan berangkat bersama sepupu serta adik sendiri, akhirnya saya tiba di pantai ini. Hmmm..., jujur saja, tak begitu spesial dari pantai ini. Penuh dengan air laut, pasir, hamparan langit yang menyatu dengan ujung bumi, awan, udara lengket, orang-orang. Apa lagi, ya? Ohhh, ada beberapa wahana seperti kolam renang dan mini ATV yang bisa dinikmati.
Tapi bagaimanapun, istimewa atau tidak, yang namanya pantai tetap memiliki pesona tersendiri yang tidak ada habisnya.




Dan, masih ada beberapa tempat lainnya. Salah satunya adalah Merapi. ^^
Friday, December 10, 2010
Rasa Itu Seperti Kopi Sore Hari
Dan, sore itu diisi dengan duduk-duduk sambil bertukar cerita bersama seorang teman, di kedai kopi. Coffee Toffee. Dengan cream yang sangat lembut. Sementara manisnya hazelnut dan kopinya melebur menjadi satu di lidah, menemani tiap kata yang keluar.
Lalu, inilah hasilnya. Beberapa jepretan hasil karya saya sendiri yang masih amatiran.
Lalu, inilah hasilnya. Beberapa jepretan hasil karya saya sendiri yang masih amatiran.
Friday, February 12, 2010
Persinggahan (Kata) Damai
by : Clara
...dan ketika saya memandangnya, ada satu perasaan dimana saya merasakan sebuah ketenangan, kesendirian juga keindahan yang luar biasa.
Ini hanya satu potong lukisan kenangan akan alam yang diabadikan oleh seorang anak bangsa bernama Agus Sarwono. Ini hanya satu pembuktian bahwa ada sebuah dunia lain di ujung sana yang tidak saya lihat. Dan ini merupakan satu fase dimana sesaat kemudian kegelapan akan melumat cahaya. Ataukah justru sebaliknya?
Ketika menerawang, maka akan semakin merasakannya...

...meski saya tidak berada di sana.
...dan ketika saya memandangnya, ada satu perasaan dimana saya merasakan sebuah ketenangan, kesendirian juga keindahan yang luar biasa.
Ini hanya satu potong lukisan kenangan akan alam yang diabadikan oleh seorang anak bangsa bernama Agus Sarwono. Ini hanya satu pembuktian bahwa ada sebuah dunia lain di ujung sana yang tidak saya lihat. Dan ini merupakan satu fase dimana sesaat kemudian kegelapan akan melumat cahaya. Ataukah justru sebaliknya?
Ketika menerawang, maka akan semakin merasakannya...

...meski saya tidak berada di sana.
Makasih untuk foto yang indah ini ^__________^
Monday, January 11, 2010
Ekspresi Para Bocah
by : Clara
Bagi saya, ekspresi anak-anak merupakan sebuah gambaran menarik yang sangat pantas untuk dibingkai dan diabadikan. Meskipun kadang kerepotan mengurus anak (halah, kayak udah punya anak aja :P), tapi kalau melihat tingkah polah mereka yang lucu, saya tetap saja gemas untuk menyimpannya dalam sebentuk kenangan.
Kemarin, pada perayaan Natal yang diadakan kecil-kecilan khusus untuk anak-anak, saya berhasil mengebadikan beberapa ekspresi polos anak-anak yang memang tidak dibuat-buat. Apalagi kebanyakan saya sengaja mengambilnya di saat mereka tidak tau kalau akan difoto. Rasanya senang sekali bisa melihat ekspresi anak-anak yang berbeda-beda itu.

Lalu, saya juga senang bisa mengabadikan beberapa ekspresi dan cara mereka ketika menyantap hidangan. Lihat, cara mereka makan sangat lucu.

Suasana perayaan itu benar-benar sangat ramai. Anak-anak nggak ada yang bisa tenang. Semua tampak sangat senang bisa berkumpul bersama kawan mereka. Belum lagi ada anak yang suka lari ke sana ke mari, padahal badannya juga cukup besar alias agak bongsor. Belum lagi terdengar celotehan riuh, teriakan, tawa membahana. Wah, pokoknya benar-benar ramai.
Kebetulan perayaan itu sendiri bertempat di rumah orangtua saya, jadi komputer pun masih tetap dalam keadaan stand by untuk sewaktu-waktu kalau kamera saya kepenuhan memorinya. Komputer saya sendiri memasang wallpaper cowok-cowok kece di atas, dan begitu ada anak-anak yang melihat, kontan mereka bilang..."Oh, aku tau itu. Yang ada di tivi, kan? Kimbum! Yang main BBF." Hiahahaha, ternyata anak-anak kecil pun tau soal BBF. Meski salah (gambar cowok-cowok itu bukan pemain BBF) mereka tetap berebut soal prediksi wujud mereka ketika dewasa nanti.
Dan yang terakhir, adalah foto para peri yang sedang bersiap-siap menunjukkan aksi mereka sebagai pengisi acara di perayaan tersebut. Ini dia para peri kecil itu.
Bagi saya, ekspresi anak-anak merupakan sebuah gambaran menarik yang sangat pantas untuk dibingkai dan diabadikan. Meskipun kadang kerepotan mengurus anak (halah, kayak udah punya anak aja :P), tapi kalau melihat tingkah polah mereka yang lucu, saya tetap saja gemas untuk menyimpannya dalam sebentuk kenangan.
Kemarin, pada perayaan Natal yang diadakan kecil-kecilan khusus untuk anak-anak, saya berhasil mengebadikan beberapa ekspresi polos anak-anak yang memang tidak dibuat-buat. Apalagi kebanyakan saya sengaja mengambilnya di saat mereka tidak tau kalau akan difoto. Rasanya senang sekali bisa melihat ekspresi anak-anak yang berbeda-beda itu.

Lalu, saya juga senang bisa mengabadikan beberapa ekspresi dan cara mereka ketika menyantap hidangan. Lihat, cara mereka makan sangat lucu.
Suasana perayaan itu benar-benar sangat ramai. Anak-anak nggak ada yang bisa tenang. Semua tampak sangat senang bisa berkumpul bersama kawan mereka. Belum lagi ada anak yang suka lari ke sana ke mari, padahal badannya juga cukup besar alias agak bongsor. Belum lagi terdengar celotehan riuh, teriakan, tawa membahana. Wah, pokoknya benar-benar ramai.
Kebetulan perayaan itu sendiri bertempat di rumah orangtua saya, jadi komputer pun masih tetap dalam keadaan stand by untuk sewaktu-waktu kalau kamera saya kepenuhan memorinya. Komputer saya sendiri memasang wallpaper cowok-cowok kece di atas, dan begitu ada anak-anak yang melihat, kontan mereka bilang..."Oh, aku tau itu. Yang ada di tivi, kan? Kimbum! Yang main BBF." Hiahahaha, ternyata anak-anak kecil pun tau soal BBF. Meski salah (gambar cowok-cowok itu bukan pemain BBF) mereka tetap berebut soal prediksi wujud mereka ketika dewasa nanti.
"Kamu jadi si ini." Kata si anak di tengah ini, pada temannya sambil menunjuk gambar di komputer saya. Dan inilah hasil prediksi mereka.
Dan yang terakhir, adalah foto para peri yang sedang bersiap-siap menunjukkan aksi mereka sebagai pengisi acara di perayaan tersebut. Ini dia para peri kecil itu.
Friday, January 8, 2010
Antara Langit dan Bumi
by : Clara
Cilincing merupakan salah satu daerah di Jakarta yang menjadi tempat krematorium bagi jenazah-jenazah yang tidak dimakamkan. Terdapat sebuah klenteng, pura dan juga tempat penyimpanan abu dan tak ketinggalan lautnya sendiri yang digunakan untuk menebar abu. Entah sudah berapa puluhan jenazah yang menjadi abu ditebar di sana.


Karena sangat dekat dengan laut maka mata pencaharian masyarakat yang tinggal di pesisir Cilincing pun tidak jauh-jauh dari melaut, menjual aneka makanan laut, atau sekedar menyewakan kapal mereka untuk dipakai para peziarah yang biasanya menginginkan pergi ke tengah laut untuk menebar bunga.

Tapi sayangnya laut Cilincing ini sangatlah berbau amis. Entah karena apa. Mungkin juga pengaruh sampah-sampah yang menggenang di sepinggiran pantai. Karena banyak sekali pemukiman yang berada di pinggiran laut.


Dan entah kenapa banyak banget anak kecil di sana yang meminta-minta duit kepada peziarah yang baru saja selesai menebar kembang di tengah laut. Mereka anak-anak yang tinggal di daerah itu. Sayang sekali anak-anak sekecil itu sudah diajari mengemis.
Tapi sebenarnya saya suka pemandanganya. Laut lepas yang bersinggungan dengan langit. Yah, kecuali bau amis dan udaranya yang lengket itu ya.
Cilincing merupakan salah satu daerah di Jakarta yang menjadi tempat krematorium bagi jenazah-jenazah yang tidak dimakamkan. Terdapat sebuah klenteng, pura dan juga tempat penyimpanan abu dan tak ketinggalan lautnya sendiri yang digunakan untuk menebar abu. Entah sudah berapa puluhan jenazah yang menjadi abu ditebar di sana.


Karena sangat dekat dengan laut maka mata pencaharian masyarakat yang tinggal di pesisir Cilincing pun tidak jauh-jauh dari melaut, menjual aneka makanan laut, atau sekedar menyewakan kapal mereka untuk dipakai para peziarah yang biasanya menginginkan pergi ke tengah laut untuk menebar bunga.

Tapi sayangnya laut Cilincing ini sangatlah berbau amis. Entah karena apa. Mungkin juga pengaruh sampah-sampah yang menggenang di sepinggiran pantai. Karena banyak sekali pemukiman yang berada di pinggiran laut.


Dan entah kenapa banyak banget anak kecil di sana yang meminta-minta duit kepada peziarah yang baru saja selesai menebar kembang di tengah laut. Mereka anak-anak yang tinggal di daerah itu. Sayang sekali anak-anak sekecil itu sudah diajari mengemis.
Tapi sebenarnya saya suka pemandanganya. Laut lepas yang bersinggungan dengan langit. Yah, kecuali bau amis dan udaranya yang lengket itu ya.
Subscribe to:
Posts (Atom)


