Feeling bored with routine and wants to play games? Playing games is one good therapy to get rid of fatigue that exists. By playing games, the human brain still trained to think, but with a more relaxed way. However, most of the links to play games online too heavy to be accessed. In addition, very rarely there are games that can play two people at once. Unlike Boxhead 2 which can be played by two players at once. Very nice and can restore the spirit to indulge.
Through this link, not just one or two games available. Various kinds of interesting games that can entertain are available here. One is the Age of War are reserved for game lovers of war. It does not require a long time to get into this game connection. Next, you can surf in a tense game in the world.
But, it turns out other advantages in addition to the many games available; the link on this one also provides compensation for people who help him. Like most people aim to have a blog, through this link we can also blogging for money. Of course this makes us more easily and quickly in making money than to find a job that seemed much more difficult.
Monday, December 27, 2010
Friday, December 24, 2010
It's Christmas Time

We wish you a merry Christmas ...
We wish you a merry Christmas ...
Akhirnya inilah yang dinanti-nantikan, sebuah hari tentang kelahiran Tuhan Yesus yang lebih dikenal sebagai hari Natal. Di penghujung tahun 2010, sebuah kedamaian baru telah datang bersama dengan hadirnya Yesus. Tak lengkaplah rasanya jika Natal tidak dilalui dengan misa di gereja lalu menjalaninya bersama orang terkasih (keluarga). Tapi, Natal kali ini saya tidak akan melaluinya bersama orangtua karena saya dan adik saya berada di Jogja sementara orangtua akan ber-Natalan di Jakarta sambil menunaikan tugas pelayanan mereka di gereja.
Jadi, long weekend liburan yang saya punya ini, saya habiskan di Jogja. Cuma 3 hari. Setelah itu saya akan kembali kerja seperti biasa. Tapi, nanti saya akan posting bagaimana liburan Natal saya di kota gudeg itu.
Selamat hari Natal, kawan (bagi yang merayakan). Semoga damai Natal selalu besertamu.
Selamat berliburan dan menikmati hari luangmu untuk bersenang-senang.
Tuhan Yesus memberkati ^^
Saturday, December 18, 2010
Taegukgi : The Brotherhood War

Kenapa harus ada perang?
Itu yang tercetus dalam benak saya sewaktu menonton film ini. Taegukgi, sebuah film Korea yang sebenarnya sudah beredar sangat lama, yaitu pada February 2004 dan kemudian muncul di USA pada bulan September di tahun yang sama. Sayangnya, saya baru bisa menonton film ini di penghujung tahun 2010 xD
Taegukgi merupakan film berlatarkan sejarah perang antara Korea Selatan dan Korea Utara. Melalui kisah ini, kita diajak masuk ke dua dimensi, yaitu tahun 2004 dan tahun 1950, dimana masa-masa itu masyarakat Korea Selatan (Seoul) dikejutkan dengan berita bahwa perang akan meledak.
Permulaan kisah dibuka dengan sebuah evakuasi jenazah tulang belulang oleh para tentara masa kini, yang menginginkan supaya jenazah tulang belulang tentara pada jaman perang meletus itu bisa disemayamkan dengan lebih pantas. Dari sana juga, tim evakuasi menemukan data bahwa seorang mantan tentara bernama Lee Jin Seok masih hidup. Dan, begitu dikonfirmasi, muncullah kakek tua yang memang mengaku bahwa dia benar-benar Lee Jin Seok. Dia masih hidup.
Lalu, scene berganti ke tahun 1950, Seoul. Diperlihatkan dua orang pria yang saling menyebutkan "semir sepatu" sebagai kode yang menunjukkan bahwa keduanya sangat akrab. Mereka adalah Lee Jin Tae (Jang Dong Gun) dan adiknya, Lee Ji Seok (Won Bin). Sampai suatu hari, Ji Seok datang ke tempat semir sepatu kakaknya itu dengan wajah cemas.
"Perang akan meletus." Begitulah berita yang dia bawa.
Masyarakat pun berbondong-bondong mengemasi barang masing-masing untuk mengungsi. Ji Seok dan Jin Tae pun tak ketinggalan. Bersama Ibu dan seorang tunangan Jin Tae yang bernama Young Shin, serta ketiga adiknya yang masih kecil-kecil, mereka segera mengungsi menuju daerah yang sekiranya aman. Tapi, di sana justru tentara Korea mengumbar pengumuman bahwa setiap pria yang berusia 18 - 30 tahun wajib bergabung untuk perang. Jin Seok yang masih berusia 18 tahun pun terpaksa ikut. Jin Tae yang tak suka adiknya ikut perang, berusaha melawan tentara itu, tetapi hasilnya nihil. Keduanya justru malah terjebak dan ikut ke dalam perang.
Pertumpahan darah, orang-orang mati dengan mudah, orang-orang sekarat, bom, kelaparan bahkan kehausan, langsung menjadi santapan Jin Seok dan Jin Tae sehari-hari selama di camp peperangan. Tapi, semangat Jin Tae untuk mengembalikan Jin Seok ke rumah dan sekolah lagi, tidak membuatnya gentar dan menyerah. Justru Jin Tae selalu berusaha menjadi tentara terbaik supaya bisa meminta kebebasan dari komandannya untuk memulangkan Jin Seok ke rumah. Sayangnya, Jin Seok sama sekali tidak menyukai ide Jin Tae. Dia ingin tetap bersama hyung-nya bahkan kalau memang mereka harus berada di camp peperangan terus. Semua itu membuat Jin Seok marah pada Jin Tae dan semakin membuat Jin Tae tak segan-segan mengambil resiko besar untuk menghancurkan lawan.
Tapi, larut dalam obsesinya untuk menjadi yang terbaik, membuat karakter Jin Tae yang penyayang itu perlahan berubah. Hingga Jin Seok sendiri menjadi benci dengan kakaknya itu.
Sampai suatu ketika Jin Seok ditahan dalam sebuah sel. Sementara Jin Tae terus berusaha membujuk komandannya untuk memulangkan Jin Seok. Ternyata saat itu musuh sudah semakin mendekat. Tiba-tiba bom meledak dan membakar hangus sel tempat Jin Seok dipenjara. Jin Tae pun tak peduli pada hujan peluru. Dia cuma mau menemukan Jin Seok dan menyelamatkan adiknya itu. Tapi, semua terlambat. Dia cuma bisa melihat api melahap habis sel tersebut. Dari sanalah, Jin Tae menduga Jin Seok telah mati. Dia pun marah pada sang komandan dan membunuh orang itu tanpa ampun.
Jin Tae tidak tahu kalau Jin Seok berhasil diselamatkan dan sedang menunggu kepulangannya ke rumah di sebuah pengungsian yang aman. Tapi, kemudian begitu dia mendengar berita bahwa Jin Tae tiba-tiba masuk ke dalam tim musuh, Jin Seok pun kembali ke medan perang guna bertemu dengan kakaknya.
Berhasilkah Jin Seok bertemu dengan Jin Tae?
Taegukgi ini merupakan salah satu film yang cukup sadis. Tidak. Bahkan sadis banget buat saya. Tak segan-segan diperlihatkannya gambar potongan tubuh yang pecah akibat bom meledak, orang yang bunuh diri dengan menembak kepala dan otaknya bercecer, lalu yang juga sadis banget adalah ketika Jin Tae membunuh si komandan.
Sedikit melirik, sebenarnya Taegukgi tak berbeda jauh dengan film punya Indonesia sendiri, yaitu Merah Putih. Sayangnya, apa yang saya lihat di Taegukgi tidak saya dapatkan di Merah Putih. Di sinilah perang itu sebenarnya tersaji dalam dimensi lain yang tak kita jangkau langsung. Dan, kalau nonton Taegukgi ini, siapin tissue aja. Kali-kali mendadak mata menjadi basah.
note : picture taken from wikipedia
Monday, December 13, 2010
E.L.E.G.I H.A.T.I

Jujurnya, dia lelah.
Seluruh tubuhnya, setiap bagian dari organnya, bahkan utas-utas syaraf itu pun terasa lelah. Jika dia bisa, dia ingin memenuhi permintaan hati. Dia bilang, dia ingin manusia tahu bahwa keberadaannya tak layak dilirik. Cukup dirasakan. Namun, harapan itu hanya akan bias, sama seperti indera perasa yang tak akan mampu menyentuh permukaan hati seutuhnya.
Ketika lelah, seharusnya beristirahat.
Tapi, kelelahan itu justru membangkitkan monster yang selama ini tidur nyenyak di dalam gua tanpa raga itu. Dia berontak, kenapa tidak ada seorang pun yang membuatnya merasa nyaman di sana? Desakan-desakan itu seolah memaksakannya menjadi semakin liar, padahal monster itu ingin menjadi malaikat. Cetusan itu mengalir begitu jernih dan polos seperti anak kecil yang ingin menjadi dokter. Tanpa pernah tahu situasi apa yang menunggu di masa depannya.
Dia yang berkata sendiri. Dia yang melanggar sendiri.
Dan, dia cuma memohon pada situasi. Dia ingin berdamai dengannya. Tolong, jangan desak dia.
picture taken from
Subscribe to:
Posts (Atom)