Memory of Bali versi Kura


Pernah nonton drama Korea judulnya Memory of Bali? Eh? Apa judulnya salah ya? Hahahahaha, udah lama, sih, agak lupa. Tapi kira-kira begitulah. Tenang sodara-sodara, saya nggak akan bahas drama untuk sesi kali ini. Setelah sesi pelampiasan isi hati yang terdalam, dan kini emosi itu telah sedikit reda berkat bantuan anda semua (uhuy, bahasanya~) sekarang saatnya sesi untuk mengenang apa yang sudah terjadi di Pulau Dewata.

Tepatnya tiga tahun lalu.
Betul kan, ya? *anak sastra yang udah kagak kuliah jadi bego itung-itungan*

Sudah lamaaaa sekali sejak saya berkunjung ke pulau yang indah ini (uhuk). Rasanya kangen. Pengin balik ke sana. Apalagi inget dengan janji untuk segera kembali berkunjung ke sana. Apa yang paling saya kangenin?
Bule pantai? Orang Jepang yang pernah foto bareng saya? Atau seseorang nun jauh di sana yang bersembunyi di lantai dua tempat kostnya? Hihihihi...lantai 2 kan ya? Iya, aja, deh. Hihihihihi...

Waktu itu dalam rangka liburan bersama Ayah, Ibu, adik, om, tante, handai taulan (kagak bener ini, yang bener cuma sekeluarga), saya memilih Bali sebagai tempat untuk jalan-jalan. Oke, proses perjalanannya saya hingga tiba di Bali, rasanya nggak penting diungkap di sini. Intinya, setelah dua hari di Bali, akhirnya saya yang sudah janjian mau ketemu sama dia, langsung meluncur menuju TKP. Wuih, saya datang ketika dia sudah menunggu. Berdiri disalah satu halte di depan kuta, dengan rambut berkibar tertiup angin, mantab bener dah kalo dibuat sinetron. Gerakannya dramatis banget. Akhirnya, disanalah pertama kali saya bertatap muka dengan si dia. Hihihi, pake bawa-bawa kado segala. Harusnya kan bawa kembang untuk dikalungi di leher saya, ya?! Dan btw, hadiahnya itu masih nangkring manis di kamar saya.

Pertemuan pertama yang katanya begitu menggoda, rasanya tidak buat saya deh. Justru saat di pertemuan berikutnya, benar-benar menggoda!

Jadi, sepulang kantor, dia menjemput saya dengan sepeda motornya di perempatan yang ada gramedia (duh, lupa-lupa ingat nih daerahnya). Dari sana saya diajak ke warnet seorang kenalan kami juga. Jiahahaha, kalo inget ini saya malu. Rasanya amit-amit banget. Skip aja, deh. Biarkan kami saja yang tau. Terus saya juga sempat diculik ke kost-annya yang ada di lantai atas itu. Hihihi....Kamarnya kecil, tapi kecilan kamar saya, serius loh ini! Tapi, saya berencana mau nginep di sana kalo Tuhan masih mengijinkan saya pergi ke Bali. (Hihihi, maksudnya sih biar dapet penginapan gratis)

Di hari berikutnya, kami melanjutkan pertemuan kami dengan makan soto pinggir jalan yang murah meriah asoy geboy! Nah, dari sana, dia niatnya sih nganterin saya pulang ke hotel, tapi apa yang terjadi?? Begitu sampe di hotel, motor yang dia kendarai bannya kempes!!!
Jiakakakakakakaka...
Telepon sana-sini, nggak ada bengkel pula (udah tengah malem, bo!) akhirnya dengan putus asa, kita malah poto-poto ria (hihihi, maaf poto tidak dipublikasikan, hanya untuk kepentingan pribadi). Abis poto, karena nggak mungkin nongkrong di pinggir jalan, kita pun masuk ke hotel. Tapi bukan ke kamar, melainkan duduk di terasnya. Menikmati angin malam minggu, ngobrol ngolor-ngidul, sambil dengerin lagu jedug-jedug yang dipasang bule-bule. Akhirnya malam minggu itu bener-bener kita lewatin berdua (romantis kalo seandainya saya bareng cowok, lah ini sama cewek!). Meski ngantuk, ngobrol dengan mata nyaris ketutup dan udah kek orang mabok, buat saya pengalaman di hari itu yang paling menjadi kenangan.

Justru, ban kempes itu malah membuat saya bersyukur (weits, jangan marah, non) soalnya kalo ban itu nggak kempes, kita nggak akan punya waktu seharian, sementara besoknya saya udah harus balik ke habitat asli saya di Jakarta (tepatnya di pinggir, sih).

Inget nggak, waktu itu kita juga sempet conversation sama Danang? Hihihihi....Biar aja, pulsanya kan dia yang bayar, ya?


Karena itu, saya mau ke Bali lagi. Saya mau nginep di kostannya, meskipun nggak ada AC yang biasa membelai tidur saya. Barangkali saya bisa mendapatkan lagi waktu semalaman suntuk seperti waktu itu. Juga, bisa menikmati bakmi (sensor ah) yang kita makan waktu saya mau balik ke Bandara. Saya kangen sama semua itu....
Terutama adegan ban kempes!!
Hihihhi....

Dedicated for Mocca Chi

Semoga hari dimana saya bisa kembali ke Bali, masih bisa terwujud sebagai salah satu
whishes list saya.
Thanks udah mau mendengar semua cerita saya.
Juga Thanks sudah mau jadi salah satu sahabat saya.




»»  read more

Lalu Saya Dianggap Apa?


by : Clara

Kalo ada pepatah "Habis manis sepah dibuang" tentu tau dong sama artinya?
Ya, setelah kita dipuja-puji dengan segala kata manis hanya untuk memenuhi kesuksesan rencana orang lain, lalu sehabis kesuksesan itu diraihnya, kita disepak sesuak hati. Ditinggal dalam kesendirian, dalam kebingungan, seperti tersesat. Rasanya miris, bukan? Atau lebih buruk dari itu? Sakit hati? Dendam? Atau punya rencana mau ke dukun santet?

Saya kerap kali merasakan hal itu.
Kecewa? Berat. Tapi ketika saya pikir-pikir lagi, ya sudah toh, mau sakit hati pun kalo saya tetep bungkam, dia juga nggak tau, situasi pun mungkin susah untuk dirubah. Saya nggak akan bicara blak-blakan mengenai siapa yang melakukan itu. Siapapun dia, harusnya dia punya kesadaran atau paling tidak dia punya ingatan dengan janji-janji manis yang pernah diumbar (dalam hal ini saya bukan menyinggung satu dari sekian teman blogger yang ada di link saya).

Kenapa saya dibiarkan tersesat, padahal semua juga saya lakukan demi dia (lebay MODE on). Saya capek, saya kurang tidur, bahkan saya merelakan waktu-waktu saya yang (buat saya) berharga karena sedang dalam rangka mengejar hutang yang tertinggal. Tapi balasannya? Saya dicampakkan! Oke, terlalu munafik kalau saya katakan saya nggak berharap balasan atau imbalan (bukan berupa duit, maaf tidak terima sumbangan) tapi paling tidak, saya juga manusia yang punya perasaan. Ingin ada yang namanya hubungan timbal balik, seperti kasus yang saya bahas dalam skripsi saya mengenai hubungan timbal balik dalam kehidupan orang jepang *jitak Clara* [kagak nyambung, yak, hihihihi].

Cuma seperti kata Mocca Chi, "itung-itung bantu orang"
Yah sudahlah. Memang realitanya, setiap orang pasti bisa berubah, setiap hari bisa berubah, semua nggak mungkin sama. Dan saya tau, apa yang berubah, tidak akan bisa dikembalikan sama persis seperti sedia kala. Anggap saja saya membengkokkan sendok, pasti saya nggak akan bisa mengembalikannya seperti bentuk sebelumnya *garis bawahi, kecuali saya pesulap*

Note: aduh, tangan saya keram-keram ini...hihhihi...udah malem juga, mau bobok. Dan untuk siapapun di sana sama sekali saya nggak bermaksud menjelek-jelekkan atau bagaimana terserah anda menanggapinya, deh. Yang jelas, ini hanya tulisan iseng. Isi hati saya. Dan sebaiknya anggap saja saya salah paham.
»»  read more

Last Friend


by : Clara

Yey, kali ini saya mau review dorama lagi. Soalnya mau nulis sesuatu, rasanya kok kebanyakan yang mau ditulis jadi bingung *cuih, hoek...* (jijay, kek kebanyakan ide aja, padahal sih otak pas-pasan lagi mentok). Tapi beneran, deh, belakangan kebanyakan mikir *kek orangtua* sampe saya bingung. Dan benar kata iklan, cewek itu emang bisa mikir semuanya sekaligus. Hahahha...
Saya kira hal itu cuma teori, kenyataannya justru terjadi pada saya sendiri.

Oke, mulai reviewnya.

Sebenarnya ini dorama agak lama, sih (sekitar awal taun punya) tapi karena waktu itu belun rajin blog, jadinya baru sekarang mengulasnya. Tapi tenang saja, dorama ini sangat bagus, jadi bisa dibilang wajib ditonton juga (read: beli bajakan atau donlod).


Judul: Last Friend
Genre: Japanesse Drama
Pemain: Ueno Juri, Nishikido Ryo, Nagasawa Masami, Eita, Mizukawa Asami.
Episode: 11 (hanya sebelas loh!)

Sinopsis:

Michiru Aida (Nagasawa Masami) yang sudah mempunyai pacar yaitu Oikawa Sosuke (Nishikido Ryo), akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama di apartemen Sosuke. Ternyata, ketika tinggal bersama dengan Sosuke, sifat asli cowok itu muncul. Sosuke suka banget marah-marah hingga main fisik, kemudian setelah melihat Michiru nangis, dia minta maaf. Tau kan? Dia punya semacam masalah dengan jiwanya. Apa sih istilahnya ya? *garuk-garuk kepala*

Suatu ketika, Michiru kembali bertemu dengan teman lamanya yang dulu begitu karib dengannya. Namanya Kishimoto Ruka (Ueno Juri). Michiru yang tertekan dengan keadaan dengan Sosuke, ditambah lagi dia mendapat bully dari rekan di tempat kerjanya--salon, kemudian memutuskan untuk pindah ke rumah Ruka, dimana dia tinggal bersama kedua temannya, Takigawa Eri (Mizukawa Asami) dan Mizushima Takeru (Eita). Sejak saat itulah hubungan Michiru dan Ruka kembali dekat. Eitsss... tapi kok nggak ada konflik? Justru itu. Justru saat Michiru dan Ruka tinggal bersama konflik sebenarnya baru dimulai. Dimana, Michiru sempat saya sangka menyukai Takeru, lalu Ruka cemburu, dll. Tapi...tapi ya, salah. Jadi yang sebenarnya konfliknya itu lebih pada batin Ruka yang tersiksa karena ternyata dia mencintai....Michiru! Iya, Ruka cinta Michiru. Ruka cewek. Michiru cewek. Hihihi, intinya Ruka 'sakit'. Tapi perasaan itu ditekannya terus, hingga Michiru nggak pernah tau. Belum lagi masalah bos Ruka yang naksir dia.

Pendapat priabdi:
Dorama ini kerennnnn!! Kenapa? soalnya pergulatan konflik tiap pemain tuh terasa hingga ke jantung. Hihihi, yang jelas berasa banget dengan konfliknya itu. Akting pemainnya juga kelas jempolan, dan nggak usah ragu-ragu lagi. Lalu permainan akting Ueno Juri sebagai Ruka, cewek tomboi yang lesbi itu, begitu menjiwai. Saya sih nggak bisa banyak omong, soalnya ini dorama emang membuat saya jatuh cinta. Cuma aja, Ryo-chan di dorama ini agak kurang 'beringas' dimana dia kan sadis-sadis gimana gitu, tapi kok ekspresi dinginnya masih sama seperti dia main di dorama one litre of tears. Tapi itu sih nggak terlalu masalah buat saya. Dia tetep sudah bermain dengan baik.

Nah, kalo berminat, bisa liat openingnya sekalian bareng lagunya yang keren banget dipersembahkan oleh Mbak Utada Hikaru yang judulnya Prisoner of Love.


credit :
dramawiki, youtube













»»  read more

Waktuku Kecil....


by : Clara

#Waktuku kecil, hidupku, amatlah senang....#

Nggak tau kenapa tiba-tiba kepikiran lagu itu.

Inget waktu kecil, kalo ditanya sama orangtua, "Kalo besar mau jadi apa, Nak?"
Dulu jawaban saya bermacam-macam. Tiap usia saya nambah satu tahun, biasanya cita-cita itu akan berubah. Pertama kali ditanya, cita-cita saya apa, saya jawab dengan penuh kebanggaan yang luar biasa :
"Mau jadi Tukang Becak!"
Saya nggak tau kenapa memilih jawaban itu. Mungkin dulu waktu kecil, saya lihat tukang becak itu profesi yang keren. Bayangkan, mereka genjot-genjot becaknya hingga betis mereka berkonde semua! Dan pas genjot, uhhh, ekspresinya kayaknya penuh penghayatan banget. Nggak tau nahanin capek plus stres atau emang dia benar-benar menjiwai profesinya sepenuh hati.
Lalu ketika umur saya nambah lagi, saya pun berubah haluan :
"Mau jadi insinyur pertanian!"
Yang ini kerenan dikit, ya? Tapi dulu saya pikir yang namanya insinyur pertanian itu kerjanya sama kayak petani. Nanem sawah, kotor-kotoran lumpur, main sama kebo, nanem singkong, dll yang berbau dengan tanaman. Yah, sampe sekarang sih saya nggak tau apa kerjaan mereka memang seperti itu atau ternyata jauh lebih keren dari yang saya bayangkan.

Lalu, masih inget kan dengan jaman 1998? Nah, sejak kejadian itu usai, saya memiliki satu tekad yang ternyata sampai sekarang nggak kesampean. Saya mau kuliah di Atma supaya bisa ikut demo seperti mahasiswa yang dulu demo besar-besaran! Kok, dalam bayangan saya mereka itu keren sekali ya? Bisa perang-perangan, trus jejeritan di jalan, entah apa yang mereka omongin, waktu itu saya nggak ngerti. Yang jelas, di mata saya mereka itu keren dan saya mau jadi seperti itu! Tapi nyatanya? Saya kuliah eh...lulusan Binus dan boro-boro ikutan demo! Aktif di kampus aja, kagak. Ikut UKM aja, keluar sebelum sempat terdaftar, hihihi.

Yang jelas waktu kecil itu saya sih merasa nggak tau mau jadi apa. Buat saya, apa aja bolehlah. Sampe akhirnya ada sodara yang bilang, "Udah, kamu jadi model aja. Badan kamu kan kurus. Nanti Tante daftarin di Agency."
Wakkksss???!! Dulu nggak kepikiran, tapi dibilangin gitu, akhirnya mikir juga. Iya, juga ya. Kenapa nggak jadi model aja, ya? wkwkwkwkwk...Tapi untung saya nggak jadi model! *ngelus dada* Sumpah, jadi model itu capek banget!
Jalan pake sepatu tinggi alias high heels dan ngulang-ngulang jalan terus kek setrikaan. Belom lagi kalo salah, bisa dimarahin...hiiiii, ngeri, deh.
Kayak tadi saya melakukan GR untuk acara fashion show besok, nggak tau berapa jam saya berdiri di atas high heels 10 centi! Lalu cuma modal mondar-mandir, disuruh goyang pinggul, goyang pala, haiyahhh...susahlah pokoknya! Makanya sekarang betis saya dengan indahnya makin seperti talas Bogor! Belom lagi, abis bengkak gara-gara sepatu tinggi itu, saya masih kudu nyetir mobil. Huhuhuhu....capek T^T

Btw, besok fashion show nya dimulai. Doakan semoga acaranya sukses. Bukan acara saya sih, tapi saya juga nggak mau acara itu berantakan. Semua udah kerja keras banting tulang soalnya.
Dan bagi yang tinggal di Jakarta, kalau mau dateng boleh juga.
Adanya di Museum Textil Tanah Abang. Acara jam 10 pagi. Hiihihi....
»»  read more

Dan Saya Mulai Merangkak


by : Clara

Kalau dipikir-pikir, saya itu udah buka blog ini sejak...mungkin kira-kira setahun yang lalu. Tapi saya memang nggak banyak melakukan sosialisasi antar blog. Saya murni menganggap blog sebagai diary online yang hanya dijadikan tempat untuk curahan hati saja, itu pun kalau sedang mood. Namun belakangan, saya mulai menjadikan ngeblog sebagai kegiatan rutin. Saya mulai melakukan sosialisasi, bukan hanya untuk memamerkan apa yang hari ini telah saya lewati, tetapi juga untuk mendapatkan sahabat-sahabat.

Kalau dari isi blog sendiri, saya sih minder. Terus terang isi blog saya kagak ada apa-apa yang mungkin bisa bermanfaat. Isinya paling cuma celoteh-celoteh nggak penting saya, untuk sekedar di-sharing dengan sahabat sekalian. Bahkan kadang saya iri dengan beberapa blog yang seringkali menghadirkan tulisan-tulisan berbobot. Tulisan saya? Duh, mungkin isinya sih kosong, deh. Seperti misalnya blog dari Bang Munir, yang isinya penuh inspiratif. Sementara blog Mbak Ateh75 dengan tulisan-tulisannya yang menggunakan rangkaian kata yang juga indah. Blog saya? Nggak ada apa-apanya dibanding dengan punya mereka.

Karena itu, ketika saya melihat bahwa saya mendapat award dari Bang Munir dan Mbak Ateh75 saya merasa tersanjung. Ternyata saya masih dilirik sebagai salah satu sahabat dari mereka.

Ini dia award dari Mbak Ateh75


Heartfelt Blogger Award

Blogger Award Comunity

Sementara itu award dari Bang Munir, karena di tujukan untuk blog Coretang Tangan dan Buah Mimpi, maka saya akan pajang di blog yang khusus saya buat hanya untuk memposting cerpen itu. Nggak apa, deh, kalo dapet award untuk blog itu, saya akan pajang di sana ^^

Terima kasih buat perhatian sahabat-sahabat blog sekalian untuk blog saya yang masih jelek ini

NB:

Makasih juga buat Mbak Fanda yang ngasih award, sampe saya juga kena imbasnya ^^

Btw, semoga nggak ada yang salah dengan postingan award ini

»»  read more

Ayooo, siapa mau diet?


by : Clara

Metode diet untuk menurunkan berat badan, sebenarnya sudah cukup mendapat perhatian dari beberapa kalangan, terutama wanita yang selalu menginginkan berat tubuh dengan angka yang kecil. Diet itu sendiri memiliki banyak jenis dan dipercaya memiliki keunggulan masing-masing. Namun belakangan telah diperkenalkan sebuah metode diet baru yang disebut dengan nama Banana Diet atau Asa Banana Diet (Morning Banana).

Metode ini diperkenalkan pertama oleh seorang berkebangsaan Jepang bernama Hitoshi Watanabe, dimana pada waktu itu ia mengalami kelebihan berat badan sehingga istrinya yang bernama Sumiko Watanabe menciptakan diet sederhana ini. Berdasarkan metode diet tersebut, Hitoshi bahkan kehilangan berat badan hingga 17 kilogram. Program diet baru ini menjadi begitu popular di Jepang, bahkan penjualan bukunya berhasil mencapai penjualan lebih dari 730.000 ribu kopi di Korea Selatan dan Taiwan.

Mengapa menggunakan buah pisang? Karena menurut penelitian, buah pisang dipercaya mampu membantu memperbaiki pencernaan makanan dan proses metabolisme tubuh. Enzym yang terkandung pada buah pisang akan mempercepat pencernaan makanan dan kemudian segera membuangnya. Hal inilah yang mampu mempercepat penurunan berat badan. Kemungkinan lainnya adalah adanya zat tepung yang terkandung dalam buah pisang, yang merangsang anda agar dapat merasakan perasaan kenyang dan juga mampu meningkatkan pembakaran lemak dalam tubuh. Disamping itu, setiap buah pisang mengandung 2-4 gram serat, 72-135 kalori dan 10-20 gram gula. Semua itu tergantung dari bentuk buah pisang itu sendiri.

Dalam semua metode diet, tentu harus ada aturan-aturan yang berlaku agar diet yang anda jalankan berjalan dengan baik. Begitu pula dengan Banana Diet, juga memiliki peraturan yang harus diikuti dan tidak jauh berbeda dengan cara diet yang lain.

1. Sesuai dengan namanya Morning Banana Diet, maka sebaiknya anda mengkonsumsi buah pisang dengan suhu ruang pada saat sarapan. Namun bukan berarti anda hanya akan mengkonsumsi pisang selama satu hari penuh. Anda bisa bebas memilih makan siang, makan malam serta cemilan yang anda inginkan. Hanya saja sebisa mungkin tidak makan diatas jam delapan malam.
2. Minum air putih dengan suhu ruangan. Semua orang pun cukup paham bahwa fungsi air putih sangatlah bagus untuk kesehatan tubuh. Namun dipastikan bahwa air putih tersebut bersuhu ruang karena dipercaya air dengan suhu seperti itu mampu memperkecil rasa lapar.
3. Tidur atau istirahat yang cukup.

Disamping aturan yang berlaku, beberapa larangan yang sebaiknya dihindari adalah mengkonsumsi es krim, alcohol atau dessert setelah makan malam. Selebihnya anda masih dipersilahkan untuk menikmati cemilan manis pada jam tiga sore.

Source :
Internet *duh lupa linknya, maap*
»»  read more

Hidup Sehat? Olahraga!


Ternyata olahraga itu memang penting!
Tidak usah yang berat juga bukan masalah, yang penting badan gerak, keringat keluar. Rasanya sudah jauh lebih enak. Karena ketika kita hanya diam saja, tanpa beraktifitas, badan akan jadi kaku. Bahkan mungkin otot-ototnya berubah jadi alot hingga kalau digerakkan rasanya cepet capek. Juga kaku.

Dulu, masa SMA, saya ikut tergabung dalam ekskul yang cukup beken di sekolah. Cheerleading dan Paskibra. Bukan ketenaran yang saya cari dari sana. Tapi pertama adalah karena memang saya menyukai keduanya. Saya cinta dancing, dan juga saya kagum dengan pasukan baris berbaris yang mengibarkan bendera saat upacara, terutama 17 Agustus. Alasan kedua, saya yang dasarnya tidak pedean ini, pengin melatih rasa percaya diri itu. Paling nggak, ketika saya berada di depan umum, berjoget-joget atau saat berbaris membentuk formasi, semua akan melihat ke arah saya. Dengan begitu saya merasa berlatih untuk lebih percaya diri. Dan yang terakhir, kedua ekskul itu menguras tenaga! Ya, kan?

Coba bayangin, cheerleader harus loncat-loncat kesana-kemari, gendong orang di atas pundak, ngangkat orang (biasanya saya diangkat, tapi ini justru membuat saya ngeri sendiri. parno sama ketinggian) belum lagi lari-lari. Tau sendiri kalau nonton Bring It On! gimana? Hehehhe. Emang sih cheerleading saya nggak secanggih di film itu, tapi namanya cheerleader kan nggak ada yang namanya adegan berjalan lambat ala tari jaipong. Sementara dalam paskibra, kita juga butuh tenaga yang tidak biasa. Ehhh, sungguh loh. Jangan salah. Jangan dikira, “Ah paskib? Cuma baris-baris doing capek?” Loh, berdiri butuh energi. Kalau lemes, pasti kan bentuknya nggak bagus. Dan katanya, paskibraka di tingkat kecamatan, membutuhkan latihan fisik, minimal lari keliling lapangan 10 kali. Kalo saya nggak salah inget, tuh. Intinya, sih, semua aktifitas di atas membutuhkan fisik yang kuat. Dan latihan yang berat. Yang kalo nggak tahan, bisa frustasi lalu mutusin keluar.

Tapi, di sekolah saya dulu, kalo mau keluar dari paskibra harus membayar denda dengan sit up, push up, skot jump, masing-masing 100 kali. Atau lebih. Ngeri, kan? Saya sih mending bertahan, deh.

Nah, masalahnya, sekarang saya udah nggak ngelakuin semua aktivitas itu. Semua berhenti sejak saya merasakan nikmatnya kuliah. Praktis, saya nggak gerak sama sekali. Fitness pun nggak doyan deh. Alhasil, karena nggak pernah latihan lagi, badan saya pun kaku kalau disuruh dance (padahal saya cinta banget sama kegiatan yang satu ini). Diperparah lagi dengan nyaris tiga bulan ini. Saya nggak ada kegiatan dan praktis hanya diem di rumah. Nggak gerak. Kerjaannya cuma makan, duduk depan pc, tidur. Kalau jalan pun bukan olahraga. Tau apa akibatnya? Berat saya naik 3 kilo! Huhuhuhuhu….
Belum lagi, saban hari pas saya mencoba memulai dance lagi dengan mengikuti koreo yang sudah ada, saya langsung ngos-ngosan, perutnya pun sakit. Padahal saya cuma asal gerak. Nggak pake power yang istilahnya kalo di dance itu harus memakai tenaga setiap kali bergerak. Haiayaa….

Pantes aja, sekarang saya jalan dikit aja capek!
Semua karena emang nggak pernah olahraga. Kerjanya hanya nongkrong di depan computer yang udah kek pacar sendiri ini.
»»  read more