by : Clara
Hari ini, melepas rileks sejenak, saya jadi kepikiran dengan beberapa hal mengenai menulis. Saya bukan seorang yang ahli dalam membuat cerpen atau cerita-cerita lainnya. Tapi beberapa kali menulis fiksi, membuat saya berhadapan dengan sebuah pertanyaan dan jawaban yang coba saya cari sendiri. Jadi beberapa hal di bawah ini sama sekali bukan lahir dari seseorang yang sudah
Sebenarnya cerita itu dibentuk berdasar karakter atau karakter yang membentuk cerita?
Dalam sebuah cerita fiksi, keberadaan sebuah/seorang karakter tentulah sebuah hal yang sangat utama. Bagaimana mungkin ada sebuah kisah tanpa sebuah karakter. Pernah lihat yang seperti ini? Saya, sih belum, jadi saya rasa tidak mungkin ada cerita tanpa karakter. Meskipun cerita itu sendiri berkisah mengenai hewan atau tumbuhan, toh tetap saja dia memiliki karakter tertentu.
Keberadaan karakter ini membuat sebuah cerita terasa menarik untuk diikuti. Soalnya dia kan memang memegang peranan penting.
Seperti sub bab di atas, karakter membentuk cerita atau cerita membentuk karakter? Saya sudah berusaha mencari jawabannya. Tapi ini murni pemikiran saya sendiri, dari sudut pandang saya, dan dari setiap pengalaman saya menulis cerita (uh, kesannya udah kek menelorkan beratus-ratus judul cerita aja).
Bagi saya pribadi, saya lebih setuju dengan cerita yang membentuk karakter. Maksudnya apa? Jadi, ketika kita mulai menulis sebuah cerpen atau novel, tentu kita harus memikirkan tentang alur dan karakternya. Nah, cerita yang membentuk karakter disini tuh berarti, alur cerita itu lahir duluan dari kepala kita dan setelahnya saat kita mulai, baru kita memikirkan bagaimana baiknya karakter ini dibentuk. Dan seiring cerita itu dibuat, dengan sendirinya karakter itu akan semakin 'jadi'.
Meskipun saya katakan bahwa karakter memegang peranan utama dalam cerita, tapi bukan karakter itu yang mengendalikan sebuah cerita. Penulis yang mengatur semua itu, mau karakternya dibunuh atau dibuat gila. Bukan kemauan si karakter kan kalau dia nantinya mati? Soalnya bagi saya, penulis adalah Tuhan untuk sebuah karya fiksi. Jadi, bagaimana karakter itu dibentuk, biasanya saya sesuaikan dengan kebutuhan cerita.
Misalnya, saya ingin membuat sebuah cerita romantis tentang seorang cewek yang mencintai cowok yang tidak mencintainya. Ketika kebutuhan cerita itu mengharuskan si cewek ini memiliki karakter setia (biarpun si cowok nggak cinta sama ini cewek, si cewek tetep keukeuh mengejarcinta si cowok), nggak mungkin dong saya membuat si karakter ini jadi tukang selingkuh. Nanti ceritanya jadi beda lagi, kan? Hehehehe...
Kesimpulan
Jadi, menurut saya, ketika kita akan menulis sebuah kisah fiksi (Kalo misalnya kisah nyata, sebaiknya sih karakternya jangan dikarang-karang. Kan kasihan dengan si tokoh aslinya, kecuali sudah ada beberapa kesepakatan yang biasanya dilakukan sebelum penulis memulai tulisannya), sebaiknya konsentrasi dengan alur cerita itu sendiri. Jangan pedulikan si karakter bagaimana. Usahakan alurnya lengkap hingga ending lalu baru, deh, mulai tentukan karakter si A mau dibuat seperti apa ya. Tapi juga lirik-lirik lagi, kebutuhan ceritanya seperti apa.
Selanjutnya, bisa menambahkan data-data untuk si karakter A tersebut. Di sinilah enaknya jadi penulis, bisa otak-atik karakter orang. Biasanya saya juga suka memikirkan kebutuhan pelengkap si karakter, seperti kebiasaan makannya bagaimana, cara duduknya seperti apa, warna kesukaannya apa, dll.
Segini aja, deh. Soalnya masih amatiran tapi udah sok bikin uraian kayak gini.
Sekali lagi, kalau ada yang berbeda pendapat, tentu aja saya menyediakan peluang untuk bicara. Toh, setiap orang punya pendapatnya masing-masing.
Note: Saya lupa, apa pernah hal seperti ini dibahas atau belum, tapi saya menulis ini bukan untuk ikut-ikutan atau kopi paste.