Monday, September 26, 2011

Egois itu Rasa

Ada manusia yang tidak punya ego?

Coba seret orang itu pada saya.

Bagi saya, ego dan manusia itu sudah satu paket. Seperti super panas di macdonald. Atau seperti pasangan sendok dan garpu. Juga sumpit yang selalu ada dua. Ini tampak mulai ngelantur analogi, sih. Tapi, intinya seperti itu. Sulit dipisahkan. Karena entah dengan teknologi apa, ego itu seperti chip dalam diri manusia. Dia mengakar dengan luas dan membuat tandanya sendiri di sudut hati. Dan, dia mengendalikan hati.
Maka dengan bibit ego yang dipelihara, maka tumbuhlah ketidakpekaan dengan orang lain, hanya mencari keuntungan semata, tidak memikirkan perasaan orang lain. Hingga suatu ketika saat saya sedang berada di balik kemudi mobil dan melaju dalam kesendirian, saya mengambil kesimpulan, peliharalah ego, tapi jangan biarkan dia tumbuh subur.

Jika bertanya kenapa, jawabannya (mudah) menurut saya. Karena tanpa ego setitik, rusak susu sebelanga. Tanpa ego, manusia bisa memberikan dirinya untuk dikendalikan. Namun, terlalu subur ego, manusia telah menggali lubangnya sendiri untuk mati.
Saya menulis seperti ini setelah bertemu dengan dua orang yang memiliki kadar egoisitas di peringkat tertinggi deretan manusia dalam hidup saya. Tak perlu menyebut nama. Yang jelas, saya merasa sangat kecewa, tapi seperti orang dungu, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Jika sudah kecewa, saya yang cengeng bisa saja menangis (tapi itu dulu) atau langsung mengalami mood swing yang sangat drastis.

Tapi, manusia itu terus belajar.

Suatu saat saya berpikir dan menemukan sesuatu dalam kepala. Bahwa, melawan ego itu seperti mendapat ujian noryouku shaken tingkat 2. Sulit, tapi pasti bisa ditaklukan jika kita mengetahui caranya dan belajar.

Hmmm…, jika ada yang punya tips atau trik lainnya yang lebih baik, dengan senang hati silahkan berbagi. Tapi, dari sudut pandang dan pengamatan saya, hanya dua cara (saya baru menemukan itu) untuk mengatasi kejengkelan diri terhadap mahluk dengan egoisitas yang kadarnya agak tidak manusiawi.

Tulus atau mengandalkan kekuatan pikiran untuk mencari hal lucu.
Itu saja.
Jangan tanya betapa sulitnya. Bahkan sun go kong harus melewati banyak rintangan sebelum tiba untuk mengambil kitab suci. Tapi, begitulah hidup.

11 comments:

Dwi Wahyu Arif N said...

claaraaa....
ego emg g bs dihilangkan tp dikendalikan, jk ktm org kita y sabar aj yaa :D

Sofyan said...

ego itu memang sudah bawaan kita dari lahir dan gak bisa dihilangkan tapi bisa dikelola dengan baik, jangan sampai ego bisa membuat pecahnya permusuhan...

Salam...

catatan kecilku said...

manusia memang harus terus belajar, termasuk utk mengendalikan egonya. tidak mudah sih, tapi selama kita mau pasti bisa kan?

Ellious Grinsant said...

eh bener juga ya, gak punya ego kita bisa jadi selalu dikendalikan, tapi kalo punya ego bisa jadi kita selalu dijauhkan, hehehe...

Ra-kun lari-laRIAN said...

ego itu bagian yang gak bisa dipisahkan dari diri kita. justru karena punya ego makanya kita jadi manusia. mahkluk yang tak punya ego itu, malaikat.

bandit™perantau said...

Yah orang bilang kendalikan egomu...
Dan manusia memang hrs belajar utk itu..

IbuDini said...

meskipun berbeda...ada yang sedikit dan ada yang banyak...tetapi emang setiap manusia itu pasti punya ego..termasuk saya.

Asop said...

Ego dan manusia itu bukan lagi sepaket, tapi ego memang udah jadi dasarnya manusia. ^^

Dan lagi, ego yang gak dikendalikan bisa membawa pada kehancuran. :(

obat kanker hati said...

memang betul tidak ada manusia yang tidak memiliki ego...
hanya saja bagaimana perlunya kita mengendalikan ego itu, jangan sampai merugikan diri sendiri dan orang lain

agenacemaxmedan said...

memang benar setiap orang pasti mempunyai ego nya sendiri...

agenacemaxyogyakarta said...

egois itu... ingin menang sendiri..