Saturday, November 28, 2009

Pemikiran Tentang Karakter

by : Clara


Hari ini, melepas rileks sejenak, saya jadi kepikiran dengan beberapa hal mengenai menulis. Saya bukan seorang yang ahli dalam membuat cerpen atau cerita-cerita lainnya. Tapi beberapa kali menulis fiksi, membuat saya berhadapan dengan sebuah pertanyaan dan jawaban yang coba saya cari sendiri. Jadi beberapa hal di bawah ini sama sekali bukan lahir dari seseorang yang sudah malang melintang di dunia penulisan. Hanya tulisan yang lahir dari pemikiran seorang penulis kacangan yang selalu merasa ingin dianggap seperti penulis (padahal dulu nggak pede sama sekali).


Sebenarnya cerita itu dibentuk berdasar karakter atau karakter yang membentuk cerita?


Dalam sebuah cerita fiksi, keberadaan sebuah/seorang karakter tentulah sebuah hal yang sangat utama. Bagaimana mungkin ada sebuah kisah tanpa sebuah karakter. Pernah lihat yang seperti ini? Saya, sih belum, jadi saya rasa tidak mungkin ada cerita tanpa karakter. Meskipun cerita itu sendiri berkisah mengenai hewan atau tumbuhan, toh tetap saja dia memiliki karakter tertentu.

Keberadaan karakter ini membuat sebuah cerita terasa menarik untuk diikuti. Soalnya dia kan memang memegang peranan penting.


Seperti sub bab di atas, karakter membentuk cerita atau cerita membentuk karakter? Saya sudah berusaha mencari jawabannya. Tapi ini murni pemikiran saya sendiri, dari sudut pandang saya, dan dari setiap pengalaman saya menulis cerita (uh, kesannya udah kek menelorkan beratus-ratus judul cerita aja).

Bagi saya pribadi, saya lebih setuju dengan cerita yang membentuk karakter. Maksudnya apa? Jadi, ketika kita mulai menulis sebuah cerpen atau novel, tentu kita harus memikirkan tentang alur dan karakternya. Nah, cerita yang membentuk karakter disini tuh berarti, alur cerita itu lahir duluan dari kepala kita dan setelahnya saat kita mulai, baru kita memikirkan bagaimana baiknya karakter ini dibentuk. Dan seiring cerita itu dibuat, dengan sendirinya karakter itu akan semakin 'jadi'.

Meskipun saya katakan bahwa karakter memegang peranan utama dalam cerita, tapi bukan karakter itu yang mengendalikan sebuah cerita. Penulis yang mengatur semua itu, mau karakternya dibunuh atau dibuat gila. Bukan kemauan si karakter kan kalau dia nantinya mati? Soalnya bagi saya, penulis adalah Tuhan untuk sebuah karya fiksi. Jadi, bagaimana karakter itu dibentuk, biasanya saya sesuaikan dengan kebutuhan cerita.


Misalnya, saya ingin membuat sebuah cerita romantis tentang seorang cewek yang mencintai cowok yang tidak mencintainya. Ketika kebutuhan cerita itu mengharuskan si cewek ini memiliki karakter setia (biarpun si cowok nggak cinta sama ini cewek, si cewek tetep keukeuh mengejarcinta si cowok), nggak mungkin dong saya membuat si karakter ini jadi tukang selingkuh. Nanti ceritanya jadi beda lagi, kan? Hehehehe...


Kesimpulan


Jadi, menurut saya, ketika kita akan menulis sebuah kisah fiksi (Kalo misalnya kisah nyata, sebaiknya sih karakternya jangan dikarang-karang. Kan kasihan dengan si tokoh aslinya, kecuali sudah ada beberapa kesepakatan yang biasanya dilakukan sebelum penulis memulai tulisannya), sebaiknya konsentrasi dengan alur cerita itu sendiri. Jangan pedulikan si karakter bagaimana. Usahakan alurnya lengkap hingga ending lalu baru, deh, mulai tentukan karakter si A mau dibuat seperti apa ya. Tapi juga lirik-lirik lagi, kebutuhan ceritanya seperti apa.


Selanjutnya, bisa menambahkan data-data untuk si karakter A tersebut. Di sinilah enaknya jadi penulis, bisa otak-atik karakter orang. Biasanya saya juga suka memikirkan kebutuhan pelengkap si karakter, seperti kebiasaan makannya bagaimana, cara duduknya seperti apa, warna kesukaannya apa, dll.


Segini aja, deh. Soalnya masih amatiran tapi udah sok bikin uraian kayak gini.

Sekali lagi, kalau ada yang berbeda pendapat, tentu aja saya menyediakan peluang untuk bicara. Toh, setiap orang punya pendapatnya masing-masing.


Note: Saya lupa, apa pernah hal seperti ini dibahas atau belum, tapi saya menulis ini bukan untuk ikut-ikutan atau kopi paste.

32 comments:

Pohonku Sepi Sendiri said...

kalo cerita komik superhero dari barat ato manga & anime jepang itu masuk mana clar? 'karakter membentuk cerita' kah? ato pada mulanya sperti itu trus kemudian jadi 'cerita membentu karakter'? duh, bingung..
hihihi.. maklum masih awam di dunia prosa.. :)

Clara said...

oh gini pohon, masalah di atas itu sebenernya hanya ketika kita mau nulis sebuah cerita. kan saat nulis cerita kita butuh alur cerita dan karakter (salah dua hal pokok dalam cerita), ada yang mungkin berpikir kita bisa membentuk karakter itu dulu lalu menyusun ceritanya disesuaikan dengan si karakter, nah saya pribadi lebih sreg dengan cerita itulah yang membentuk si karakter ini jadi ada. Jadi karena ada cerita bla bla bla, jadi nanti saya akan memikirkan bagaimana sebaiknya si karakter itu.

kalo untuk cerita komik superhero dan anime yg kamu maksud, itu sih tergantung si pengarangnya. waktu dia membuat cerita itu, apa yang lahir duluan, alur ceritanya kah? karakternyakah? nah itu beda-beda.

hihihi, bingung ya masih?

-Gek- said...

Belum baca postinganmu - baru baca komen si pohon dan dirimu.. sepertinya membicarakan mana yang lebih dulu, telur apa ayam...
muter-muter gitu...

sekarang baca dulu ah..
(scroll atas) :p

-Gek- said...

Oh gitu, menurut aku, bener itu non. Cerita dulu, alur dulu.. abis itu, baru deh karakternya di utak-atik, kan kita yang buat sendiri toh..?
Iya- iya NOn, percaya ini tulisanmu.
;)

-Gek- said...

Ya ampun, ternyata aku baca cuma semenit yah?
OMG....

sibaho way said...

setuju sih mbak. cuma mbulet emang klo dipikir2. awal2 mungkin cerita membuat karakter. tapi begitu kesana2, karakter membentuk cerita sendiri.
bener gak sih ;D

Pohonku Sepi Sendiri said...

oOo gitu.. sedikit mengerti.. hehe..
jadi tulisan clara diatas menjelaskan perihal penentuan kerangka ide yg digunakan utk menciptakan suatu cerita ya.. bisa alur cerita dulu baru karakter dan bisa juga sebaliknya, tergantung pribadi dan keinginan pengarang masing2.. yg nantinya pun akan memperoleh beragam variasi cerita yg berbeda-beda.. benar begitu bukan?
menurutku, hal ini sama halnya juga dgn penentuan ide kerangka kalo mo bikin puisi..
*sotoynya kumat* hihihi..

JR said...

wakh keren sekali tulisannya
salamat sore dan salam kenal......

Pohonku Sepi Sendiri said...

wah gek, bacanya cuma semenit.. ckckck.. aku aja tadi bacanya harus berkali2.. dari atas ke bawah, bawah ke atas, bolak-balik kiri ke kanan dan kanan ke kiri.. *lebaaay*
pemahaman ibu guru memang sdh terasah.. hihihi..
-spam mode on-

*kabuurrr*

Clara said...

@Gek: Seperti biasa ya Gek, kali ini 3 tempat? hihiihihi...Baca satu menit, Gek? wuih hebat, tau nggak sih? aku aja pusing baca tulisanku sendiri hihihhi *gubrak*
yap, ini salah satu tahapan yang biasa aku lewatin kalo nulis cerita... ^^
semoga nggak membingungkan

@Sibaho: Betul, mas. Mbulet=bingungin, kan? Aku juga suka bingung dengan dua hal itu, tapi biasanya aku pribadi lebih sreg dengan bikin alur baru karakter.
hihihi, bener atau nggaknya yang mas bilang, aku juga nggak bisa ngomong, karena semua tergantung masing-masing orang.

@Pohon: okehhhhh deh pohonnn...akhirnya dirimu mengerti. ku kira aku nggak bisa menjelaskan dengan baik *hampir hopeless sampe mau apus postingan ini*
nah, mungkin bisa dibilang gitu, sama dengan kalau buat puisi, tapi aku nggak ahli bikin puisi.

Clara said...

@JR: ohhh jenis tulisannya emang keren sih kalo diliat" kalo nggak salah font nya arial deh *nggak nyambung mode on*

makasih ya udah berkunjung

@Pohon: wah sekarang nyepam juga nih?
hihihihi...bener pengalaman bu guru yang udah malang melintang baca, pasti lebih cepet ya Xp

kalo udah kabur, lain kali balik lagi, ya, pohon hihihi

munir ardi said...

ulasan yang bagus clara kalau aku sih nulis apa yang ada diotak saja ngalir tapi kalau ada inspirasi, kalau nggak ada puyeng juga sih

Dhana/戴安娜 said...

salam sahabat
wah karajter membetuk......kalimat itulah memerikan inspirasi thnxs n good luck ya

-Gek- said...

Clara dan pohon : *GETOK* spesial karena ngegosipin bu guru.. (tangan dilipat dan bawa penggaris kayu, pake kacamata runcing.. - emangnya pensil.. )
xixiixixix

Fanda said...

Nah kalo soal cerita n karakter, kayaknya Fanny Sang Cerpenis nih yg kompeten menjawab. Untuk sementara aku cuma menikmati aja deh...

Desi Eria R. said...

Aku juga setuju kalo cerita yg ngebentuk karakter.
Soalnya alur cerita dibuat dulu, baru menentukan karakter pemainnya.
Hehe, aku ko jadi ikut2an sok tau hal tulis menulis yaa...

albertus goentoer tjahjadi said...

setuju banget nih mbak... cerita yang membentuk karakter... meski mbak bilang baru amatiran tapi tulisannya mantap lho! Salam sukses ya n' met weekend...

anindyarahadi said...

setuju mbaaakk, karakter yang membentuk cerita ;)
seperti aku yang misalnya diceritakan kebanyakan tingkah.. sampe ngga sadar kaki sakit

akibat : hot pants-nya robek.. bagus.. bagus..

(lhoh?)


eh ini ngga nyambung ya..


emm...

kan udah dibilang ngga nyambung, kenapa bacanya masih terus?























udah ah capek mencet ENTER hyahahahahahahaha

anindyarahadi said...

kok foto fashion shownya ngga dipajang di blog mbak??? *ketawa penuh kemesuman

Clara said...

@Mbak Fanda: Hihihi, aku juga menunggu mbak Fanny komentar kok ^^

@Desi: Aih, mbak...nggak ada yang sok tau untuk komentator di sini. bisa nyotoy sepuas-puasnya di sini mah...hihihhi...^^v

@Mas Goen: Wih, tersanjung jadinya, tapi jujur aja, aku masih pusing juga baca tulisanku itu...tapi makasih ya...met wiken juga ^^
*pissss*

@Anin: Nyinnnnn...kamu tuh ya...ku kira ada apa di komen mu kok lowongnya panjang bener, rupanya dikasih enter sama kamu ya? *getok*
hihihi...
Ohhh foto fashion show itu khusus di FB aja, deh, takutnya nanti kalo di taro di blog aku jadi makin beken Xp kan nggak enak *kabur sebelum ditimpuk sandal jepit sama anyin*

Andie Gokil said...

bagus nih uraian nya. tapi aku ga ngerti fiksi dan cara membuatnya. hehehehe. mismin ide. #parah

Munir Ardi said...

lirik kanan dan kiri aduh suhu cerpen belum datang nih penasaran jugasih jawabannya gimana

JHONI said...

wah kalo saya bikin komik (meski gak pro) ya bener si bikin jalan cerita dulu baru nentukan karakternya.....tapi gak mutlak seperti itu....karena kadang saya menggambar karakter dulu....baru dapet untuk dijadikan peran apa dan dimana....begitu (ngerti!?!?!....kalo gak berarti sama wkwkwkwkw)

tapi memang menyenangkan membuat komik atatupun cerita.......playing as a god...hehehehehe!!!!

Andie Gokil said...

follow you back :)

rumah blogger said...

kalo dirubah-rubah kasihan juga yaa pemain aslinya.

sabirinnet said...

benar sekali, kita harus menghargai tokoh aslinya. thanx nich udah berbagi ilmu

Ellious Grinsant said...

Wuakakakak... amatiran dari hongkong. Wuakakaka... bagus kok tulisannya. Lumayan buat gua sebagai bekal meraih masa depan (loh kok?)

becce_lawo said...

wuihhh, agak berat nih untuk dikomsumsi otak dodol ku he,he,he

kalau aku mbak, membuat dulu pokok dan inti ceritanya, terus nyari tokoh/karakter yang pas

tapi sekarang sih lebih banyak menulis pengalaman-pengalaman...nagh klu yg itu gmana penjelasannya??? karakter dulu apa cerita???

Clara said...

@Rumah blogger: hihihi, iya dong kasian sama yg original, masa dibajak *apa sih nggak nyambung*

@sabrinet: Sama-sama...senang bisa berbagi ^^

@Ell: halo pak ^^ ogut kan bukan orang hongkong, euy, hihiihihi... meraih masa depan apa pak?

@Becce: Aku juga dodol, kok bung becce hihihihi
kalo pengalaman pribadi? kisah nyata ya? rasanya sih kita harus tanya sama Yang Diatas, hohoho, ngeri ya. Tapi kalo diliat lagi, mungkin karakter itu dulu yg ada lalu kisahnya kita yang memilih dari pilihan yang disediakan
*adow, udah stres plus ngantuk nih balesinnya*
maap

-Gek- said...

Mo bales nanya,

"kemana aja Clar, ga posting..?"

hihihihi..:p

aaSlamDunk said...

hmmm karakter ya?
kalo kembanyakan dari film yang ada super hero itu karakter yang membentuk cerita....
tapi kalo di film kaya bencana alam seprti 2012 kayanya cerita membentuk karakter...

kayanya lhoo hehehe slam sendiri kurang mengerti soal kaya gituan.... enjoy aja semua cirita

mocca_chi said...

kali ini no koment lgi,puyengggg