Monday, April 11, 2011

Nasi Bungkus, Hujan Dan Orang

Hujan akhirnya menggujur kota Jakarta di siang harinya, setelah sekian saat hanya memajang mendung pada etalase langit. Saya bergerak menuju kantor. Merasa sangat beruntung karena ada pinky yang menemani sehingga saya tidak kebasahan. Macet tak menjadi masalah yang berarti. Bahkan menjadi satu titik penyentak nadi, ketika kemacetan membuat pinky tersendat di perempatan lampu merah Radio Dalam.

Di sudut pinggiran, tepatnya di depan sebuah salon yang entah apa namanya, dekat tiang listrik, mata saya terpaku pada dua orang--bapak dan anak, yang sedang asik berjongkok. Dengan tubuh hitam terbakar matahari, pakaian kumal dan ditemani rintikan hujan yang mulai berubah menjadi fase gerimis, mereka asik menyantap nasi bungkus berdua dalam keberbagian. Tak peduli pada ramainya jalanan akan kendaraan yang memuntahkan polusi, tak peduli pada gerimis yang pasti akan ikut bercampur pada makanan itu, apalagi soal apakah tangan mereka telah bersih sehingga layak untuk menciduk tiap kepalan nasi ke dalam mulut mereka.

Yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana perut mereka bisa terisi dengan nasi--mungkin.

Peristiwa itu langsung membuat saya terenyak. Pinggir jalan, pun tanpa alas, mereka jadikan restoran pribadi.

Saya lantas ingat, seringkali adanya saya merasa tak pernah puas dengan makan yang "hanya itu saja". Atau mungkin, seringkali didera ngidam yang luar biasa untuk mencicipi makanan berharga puluhan ribu. Sementara bapak dan anak itu, saya lihat dari mobil, hanya menyantap nasi bungkus biasa. Pun harus berbagi.

Sebenarnya saya sempat mengabadikannya melalui ponsel, tetapi belum ada kesempatan untuk menguploadnya karena keburu ingin memposting kisah ini di blog.

Dan, melalui satu gambaran tersebut, saya berharap itulah teguran untuk saya bahwa saya masih harus lebih banyak bersyukur dengan kehidupan hingga titik ini.

Friday, April 8, 2011

The best road investment

Given what is happening in society today, people certainly try my best to collect money through their hard work. Every day, go early and come home too late just to meet their everyday needs, with little hope that there will be remaining on their savings deposits. Each piece feels very precious pennies. But for who they are abundant, of course, the money will be flowing endlessly, as if it could not be stopped. Yet, somehow, both have abundant material or not, saving money by collecting coins is not one best solution to achieve maximum results. Lately, the trend in society is to invest. Investment is the only way the most secure and easy ways to save money that have been produced for hundreds of days. One of the most lucrative investment communities is by investing in gold. And, one of them all is the IRA gold.

Gold is considered as a precious metal that costs will not decline significantly. Invest some savings in gold is the best way out, at least for now. By IRA gold, you can monitor the development of rising gold prices. And, besides gold IRA, you can invest your money in 401k gold, where it is only one option for you. Benefits remain the same.

All the way to invest is very easy. By looking at the contents of the gold IRA transfer, you will easily come to invest big in gold. Nobody will feel loss due to this investment your hard-earned savings. And, everything will go back to the future of the maximum.

Museum Prasasti

Kadang sesuatu yang datang spontan sungguh menyenangkan.

Kemarin ini tiba-tiba tercetus untuk mengajak seorang teman hunting di sebuah tempat. Banyak yang sering menjadikannya lokasi untuk foto-foto. Terlihat keren. Terbawa rasa penasaran pun akhirnya saya mencetuskan ide untuk pergi ke sana.

Namanya Museum Taman Prasasti.

Judulnya memang museum.

Tapi, dia adalah kuburan Belanda.



Friday, March 25, 2011



















Sang Berdera Berkibar-

Dia melambai dan menari dengan indahnya di udara.


picture taken by me, Si Fujii, Superia asa 200