Sunday, August 1, 2010

Tempat Yang Seharusnya

Halooo, berjumpa lagi dengan saya, Clara. Hakakaka~ setelah sekian lama tidak memposting, akhirnya saya kembali berhadapan dengan lembaran kosong di new post. Dan, kali ini saya hanya ingin memuntahkan uneg-uneg yang kerap kali menghantui saya belakangan, baik yang masuk ke dalam topik pembicaraan diantara beberapa kawan, maupun yang hanya melalui media.
Apakah itu?

Semua diawali ketika perbincangan dengan teman kantor disela-sela menunggu materi kerjaan. Sambil menikmati secangkir kopi dan semilir angin subuh, komunikasi kami mulai masuk ke topik mengenai kecelakaan dan yang paling dekat hubungannya dengan hal itu, Rumah Sakit.

Sebenarnya, apa sih fungsi Rumah Sakit? Bukankah seharusnya tempat itu menjadi sebuah mediasi penyembuhan bagi orang-orang tak berdaya yang membutuhkan penanganan? Kenyataannya (di Jakarta khususnya) berkata lain. Saya tak melihat fungsi sebenarnya dari tempat yang katanya berdiri di atas visi untuk menyelamatkan nyawa manusia itu. Sudah terbukti bahwa kebanyakan Rumah Sakit yang ada hanya dibangun dalam rangka menambah jumlah bangunan di Jakarta sekaligus menjadi lubang untuk mengeruk materi sebanyak mungkin. Dan, menurut saya, Rumah Sakit tak kalah seperti pemerintah dalam menyiksa rakyat yang tidak memiliki kelebihan dalam hal materi.

Apa saya hanya asal mengeluarkan pendapat secara subjektif?
Tidak. Penuturan orang yang kecewa dengan pelayanan sebuah Rumah Sakit sudah banyak saya dengar. Dan, kalau terus begitu, lebih baik gusur saja Rumah Sakit-Rumah Sakit yang mengkambinghitamkan nilai sosial hanya untuk menutupi keinginan mendapat uang lebih banyak.

Teman saya pernah punya pengalaman. Dia dan beberapa kawannya sedang mengendarai mobil menuju sebuah tempat (saya lupa tujuannya). Disebabkan oleh kelalaian atau apa, tiba-tiba mobil oleng dan terjadilah kecelakaan itu. Salah satu kawannya mendapat luka paling parah dan segera dilarikan ke Rumah Sakit. Dengan kepanikan luar biasa, mereka pun membawa korban ke UGD yang katanya adalah Unit Gawat Darurat--dimana pertolongan pertama SEHARUSNYA diberikan kepada pesakit. Tapi yang ada, teman mereka yang bahkan banyak mengeluarkan darah di bagian kepalanya, tidak digubris sama sekali. Dokter jaga dan perawat hanya mondar-mandir, (sok) sibuk mengurus yang lain. Entah apa. Salah satu perawat hanya bilang, "Harus mengurus BIAYA administrasinya dulu."

Ya Tuhan..., orang yang sedang terkapar dengan darah terus mengucur dan sedang bertaruh akan nyawanya, hanya didiamkan begitu saja seolah-olah orang itu cuma terserang demam! Inikah fungsi Rumah Sakit yang katanya ada untuk menyelamatkan nyawa manusia??

Tak ada pilihan lain. Meski tak punya uang cukup, tapi karena rasa sayang pada temannya, mereka pun mengumpulkan sejumlah uang yang ada di kantong mereka. Setidaknya sebagai jaminan bahwa akan ADA YANG MEMBAYAR SI KORBAN nantinya. Setelah DP (duhhh, dikira beli mobil apa??) pun baru si korban mendapat penanganan.

Lain halnya dengan penuturan teman saya mengenai almarhum ayahnya yang mengalami kecelakaan cukup parah di daerah Bintaro. Cukup parah. Mungkin sudah ada diantara hidup dan mati. Tapi, pihak Rumah Sakit tempatnya dibawa hanya menyuruh korban untuk stay di ruang rawat biasa. Sampai teman saya harus tarik otot, "Pasien ini lukanya parah, dok!" Barulah korban mendapat pertolongan di ICU. Itu punnnnn, hanya bermodal infus dan selang-selang yang entah untuk apa. Tak ada operasi. Tak ada penanganan lebih lanjut. Hingga akhirnya nyawanya tak lagi bisa ditolong.

Belum lagi sekarang ada kerabat orangtua saya yang masuk Rumah Sakit karena penyakit demam berdarah. Dia bukan orang yang berkecukupan. Hanya seorang hansip di perumahan. Bisa dikira-kira bagaimana kondisi keuangannya. Dan dia harus membayar uang Rumah Sakit sebesar 1 juta PER HARI. Demam berdarah, paling tidak membutuhkan waktu hingga 1 minggu. Darimana dia bisa mendapat uang 7 juta hanya untuk pengobatan, sementara setiap harinya harus pontang-panting mencari uang untuk menyekolahkan anaknya??

Saya benar-benar prihatin dengan kondisi Rumah Sakit saat ini. Miris benar dengan keberadaan mereka. Untuk apa? Hanya untuk menyelamatkan nyawa orang-orang berduit sajakah? Yah, jaman sekarang memang, istilahnya nyawa bisa diperjualbelikan dengan uang. Dan itu sangat ironis sekali.

Saya tak ingin menyinggung pihak mana pun.
Bagi saya, fungsi Rumah Sakit dan kawan-kawannya sudah mulai bergeser. Saya benci melihat kenyataan itu. Tapi bisa apa? Saya juga bukan dokter, tak bisa menyembuhkan orang sakit. Saya juga bukan Tuhan, yang sekali sentuh, apa pun perkataan-Nya bisa terjadi. Saya hanya berharap kondisi Rumah Sakit bisa diperbaiki. Sesuaikan dengan visi dan misi seharusnya. Tak hanya menambah jumlah bangunan Rumah Sakit, seperti yang sekarang sedang dikerjakan di dekat rumah saya. Ada dua Rumah Sakit yang sedang dalam proses pembangunan. Lantas untuk apa? Semoga jawabannya bukan untuk materi.

Mengingat soal Rumah Sakit dan kawan-kawannya, saya lantas teringat dengan drama Jepang berjudul Code Blue. Tak hanya dokter, bahkan perawat, semuanya menjalankan tugas memang khusus untuk nilai kemanusiaan. Dan mereka sangat menjujung tinggi hal itu. Adakah hal yang seperti itu di Indonesia? Saya harap akan ada yang mengangguk. Paling tidak satu diantara ribuan.

48 comments:

Clara said...

aduh saking esmosinya sampe kepanjangan T_T

Elsa said...

setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu

Elsa said...

aku trauma banget sama yang namanya RUMAH SAKIT.
kalo dulu nonton serial ER, kok sebegitunya mereka niat menolong, niat membantu pasien...
jauh beda dengan kondisi rumah sakit kita di sini...

kakak sepupuku juga pernah kecelakaan...
terkapar di rumahsakit, bercucuran darah sampe gak kuat ngomong....
tapi di diemin sama perawat/dokter/petugas di sana. karena belom ada keluarga yang "MENJAMIN" biaya nya!!!!!

gila beneeeeeeeeeeeerrr.....

harusnya kita punya UU kesehatan,
yang pro rakyat, gak pro dokter/perawat/rumah sakit yang gak beres gitu...

agar malpraktek di indonesia juga akhirnya ada penyelesaian...
selama ini kan, selalu menggantung. kayaknya dokter/rumah sakit GAK BISA disalahkan.

waduh, kok jadi kepanjangan juga yyaaa

Elsa said...

sorry Clara...
komennya kepanjangan

BABY DIJA said...

hihihihi...
Tante Clara sama Tante Elsa kok sama sama Es Mosi sih??

BABY DIJA said...

sabar dong Tantee.....

inge / cyber dreamer said...

Setujuh bgt...
Bahkan harusnya tuch UGD berganti nama... >.<

riesta said...

ya,,,,slalu saja...
UANG...

Ladyonthemirror said...

waktu anakku di rawat di rumah sakit, ada seorang Bapak yg istrinya mau melahirkan putar-putar kebingungan di loket administrasi, karena semua surat2 yg diperlukan ngga kebawa padahal rumahnya jauuuuuuuuuh banget di desa sedang istrinya harus ditangani dengan cepat. sedih deh kalo liat rumah sakit di Indonesia apalagi untuk pasien raskin, suka dimarah-marahin suster, dioper sana-sini, dicuekin, trus ditarud di zaal yg oper capacity

kebookyut (DiVe) said...

ke RS pemerintah aja mbak, lbh nggak mengutamakan dp kayaknya, tp tetep harus registrasi. mungkin dokternya terikat prosedur RS, kayak d komik apa gitu, yg tenaga medisnya diikat sama prosedural ketat kalo nggak mau dipecat..atau ke bali aja, hehe ^^

WONG SIKAMPUH said...

Rumah sakit semakin banyak yg sakit semakin menambah pendapatan...

windflowers said...

yup..betul clara..sekarang rumah sakit bergeser nilainya..seakan semua fasilitas itu hanya untuk orang berduit saja...mmhh..miris memang...

Yolizz said...

ujung-ujungnya duit... dan yang paling nyebelin udah bayar, eh tetep aja pelayanannya ga memuaskan >.<

The Michi said...

Saya setuju... kampret emang tuh rumah sakit rumah sakit.. maaf saya emosi.. sepupu saya pernah hampir saja meninggal karna rumah sakit tidak mau melkukan apa apa,sebelum adanya administrasi. Maaf saya emosi.

Laksamana Embun said...

Saya sering melihat hal yang seperti ini, gara2 blum ada uang untuk mendaftar, Org itu ditolak untuk ditolong.. Inilah kbijakan rumah sakit yg harus direnovasi, Utamakan dulu menolong nyawa orang baru biaya klau uang dulu baru biaya maka akan banyak nyawa melayang gara2 rumah sakit..

Maaf ya mbak sedikit emosi komentarnya,, :)

Baby Dija said...

hihihi...
yang es mosi ternyata bukan Tante Clara sama Tante Elsa aja yaa..
semuanya esmosi sendiri sendiri

rupanya Rumah Sakit banyak bikin orang es mosi.
hihihi

agoez said...

Orang Miskin Di Larang Sakit.

Winny Widyawati said...

Akhirnya harus tambah "kenceng" berdo'a dan berdo'a plus berusaha agar jangan sampai sakit atau kecelakaan yang mengharuskan masuk Rumkit, kalo tdk mau mendapat pengalaman buruk :(

Aulawi Ahmad said...

Yang salah jelas pemerintah!..yg punya ribuan pegawai namun tidak berfungsi karena tak ada kontrol, pengawasan rutin terhadap kinerja rumah sakit2 :(

-Gek- said...

engga panjang neng, semua ini benar Clar.
Ternyata di Jakarta juga ya?
(Sudah cukup mendengar orang misuh-misuh karena satu - or all of RS di Bali.... )

catatan akhir ........ said...

clara,
ternyata masih banyak yang harus dibenahi ya...moga saja mereka cepat faham akan kebutuhan masyarakat disekitarnya.

Oh ya bila sempet, mampirlah ke blog ku, mungkin kita bisa share apa saja disana nanti, makasih ya

http://satriojatim.blogspot.com/
http://obrolanblogger.blogspot.com/
http://indonesiatraveling1.blogspot.com/

salam - satrio

alfi said...

pa kabr mbak..?
dan selamat datang kembli..:)

Nuy said...

Ck! iya emang rumah sakit sekarang bener-bener udah bergeser posisinya.. seolah uang di atas segalanya!

Kandang tips said...

inspiratuf,,,,

catatan kecilku said...

Memang spt itulah potret penanganan kesehatan di negara kita... Urusan nyawa tergantung ada tidaknya uang atau yang menjamin biayanya nanti... :((

Maaf ya baru sempat mampir lagi setelah beberapa hari absen blogging.

Anonymous said...

wah clara,,ne ptama kaliny gwa bc blog elo,,hehehe

iy,,gwa stuju bgt,,RS skarang lbi mentingin duit,,urusan tanganin pasien jd urutan ke sekian,,
tp emank duit yg jd masalah,,
klo org berduit,,ga akan masalah utk dapat penanganan,,

trus RS skr,,lebi prefer melayani org yg puny asuransi,,bknny krn gwa agen trus gwa ngom gt y,,

bbrp wktu lalu,,ad kluarga gw yg msk RS,, hal pertama yg d tany bkn sakit ap,,tp dah puny asuransi? trus mnta DP,,
Gwa jg kesel,,harusny d tangani dl br urus DP..

nah makany klo mau dpt pelayanan cpt,,mending puny asuransi kesehatan,,ga rugi sm skali koq,,
skali lagi bknny krn gwa agen asuransi trus gwa ngom gt y,,ne kenyataan yg ad..
jv

four dreams said...

halo clara masih bersama gue shudai ajlani pengemudi FOUR DREAMS :D
gue lagi blogwalking nih ketempat tempat sahabt blogger :D

Seiri Hanako said...

sebenarnya kalo sistem management finance kesehatan Indonesia diperbaiki n nggak ada korupsinya, ya nggaka akan jadi seperti ini
RS itu tergantung pengelolahnya
kalo pengelolanya nir laba sih bisa aja dapat gratis..

kenapa bisa mahal?
coz kebanyakan alat-alat pertolongan dan obat-obatan di import dari luar neggeri ato kalo produksi dalam negeri biasanya harus membayarkan sejumlah royalti..
karena mahalnya dan RS membayar (sering harus kredit) makanya semuanya itu di kenakan biaya..
kalo saja ada dana talangan dari pemerintah ato swasta, maka semua biaya darurat bisa ditutupi.. tapi kan di negara kita hampir nggak ada
yang ada ekploitasi tenaga kerja

tapi tergantung RS nya juga lho
nggak semuanya seperti itu

attayaya said...

welkom bek non

fanny said...

hmm..kemarin ke gramedia liat buku kamu, non. hehehe...

soal pelayanan RS di Indonesia sih emang bikin cape deh.

pencari angin said...

hmm tentang administrasi yang harus dibayarkan dulu atau ada penjamin, bukankah lebih baik kalau pasiennya ditangani dulu ya. Kan kasihan kalo ada yang jadi almarhum atau almarhumah gara2 terlambat penanganan.

kapan ya Indonesia punya mekanisme yang jelas untuk membuat rakyatnya nggak banyak protes. :(

fb said...

Istilah rumah sakit harus diganti kali jadi rumah pengobatan atau apa mungkin baru bener...

Senja said...

ucapan bu dokter seiri benar jg,meskipun saya pernah punya pengalaman ga enak jg.... saya datang ke rmh sakit dgn kondisi sakit perut parah, tanpa USG or pemeriksaan menyeluruh katanya saya usus buntu dan hrs segera dioperasi.

setelah dioperasi usus buntu,ternyata kondisi usus buntu saya baik2 saja,3 hari saya pulang....baru dua jam di rmh saya mengalami pendarahan yg ternyata penyakit dan rasa sakit yg saya rasakan bukan krn usus buntu.

mereka kdg cenderung terburu2 menangani pasien apalagi di RS swasta. saya gak sakit usus buntu kok di operasi usus buntu,alhasih 10 hari setelah operasi usus buntu saya yg memang tdk apa2,saya hrs menjalani operasi yg sebenanrnya...hikss....

attayaya said...

banyak dokter dan perawat serta layanan rumkit yang sembrono
lebih mementingkan uang

Itik Bali said...

Sebenarnya masih ada kok mbak, beberapa RS yang masih mendahulukan kepentingan pasien
setidaknya masih ada beberapa pegawai RS yang masih peduli dengan hal tersebut
cuman ya langka..

harto said...

Lama tidak berjumpa, lama pula tak berkata, namun persaudaraan yang ada diantara kita begitu indah kita rasakan. Dalam menyambut datangnya bulan suci ramadhan, kami mengucapkan SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH SHAUM MOHON MA’AF LAHIR dan BATHIN

Bali VIlas said...

Pengobatan memang mahal ya?
kita memang mengira pihak dari rumah sakit tidak punya perasaan, gebangeten banget,
tapi saya sendiri juga bingung, apa itu memang gebangetan, atau memang peraturan dari sana harus begitu.
semoga saja rumah sakit di indonesia ke depannya bisa lebih baik, dan bisa lebih murah terutama..

four dreams said...

mana nih clara ? belom posting baru :D

ra kun said...

ya, semoga ada yang seperti di Code Blue itu :)
have a nice day, Clara ^^

attayaya said...

semoga masalah bidang kesehatan bisa menjadi lebih baik

arief hidayat said...

ga' rumah sakit, ga' anggota dpr, semua sama saja, semakin hancur bangsa indonesia ini

Zulfadhli's Family said...

Setubuh Mba! Di Indonesia apa2 butuh duit. Dulu juga ada korban tabrak lari di Bogor, di bawa ke RS dalam kondisi berdarah2 hebat, eh sesampenya di RS 'dicuekin' ajah sama Dokter dan perawat2nya. Katanya belom ada yang ngurus biaya administrasinya! Iiiihhh, esmosi jiwa dah!!

Kalo di M'sai ini Mba, waktu gw melahirkan, kami kan baru dateng sebulan, jadi Ayahnya Zahia belom terima gaji. Karena biaya melahirkan ga dicover kantor, so kudu bayar sendiri. Uang ga ada, bekele sedikit yang dibawa dari Indonesia buat makan sehari2. Setelah megajukan permohonan ke Hospital, disertai degan surat keterangan dari kantor bahwa memang betul Ayahnya Zahia karyawan disitu, maka Hospital memberikan keringanan untuk biaya melahirkan sebesar 1700 RM (gw cesar) dibayar bulan depan. Alhamdulillah.

kebayang dah kalo di Indoenesia bayinya pasti ditahan di RS!!!

rosanakmami said...

huwaaa
iyaaaa
baru mau ditanganin kalo udah ada jaminan >.<
miris lihatnya sih...
pernah ada kejadian kayak gitu, yang ngalamin temenku, padahal dia cuma jatuh dari motor gak gitu luka amat tapi di sebelahnya ada yang udah bercucuran darah itu gak ditanganin juga karena gak jelas siapa yang nanggung
padahal temenku juga udah minta dokter buat nanganin yang itu dulu tapi tetep aja katanya prosedur, T.T

rannyrainy said...

hidup ibu itu hehehe
gag semua rumah sakit seperti itu :) sometimes masuk nya gratis tapi pas periksa kudu beli obat ini lah itu lah..
deuh intinya gini,kalo pas lagi sakit dan parah pasti dilayanin dulu setelah itu dilakukan proses pembayaran..ini yang sayah amati dengan keadaan rumah sakit yang pernah sayah samperin >.<

nuances pen said...

Rumah Sakit benar-benar memberi bonus sakit hati!

yanuar catur rastafara said...

rumah sakit dijadikan bisnis tuh

Panah Hujan, inc. said...

Wuha! Clara, post ini keren betul!

Yohan Wibisono said...

Salam Kenal dariku, artikel menarik :D Sekalian mau bilang Met Puasa bagi yang puasa. Met sejahtera bagi yang gak njalanin. Semoga selamat & damai dimuka Bumi. Amin :D