Monday, September 21, 2009

Wisata Alam : Gunung Puntang

Pertama lihat informasi mengenai wisata alam ini melalui sebuah majalah wanita. Di halaman tersebut, terpampang dengan jelas salah satu sisi bagian dari tempat ini. Nuansa hijau dan fresh yang saya lihat di sana, membuat saya langsung memutuskan 'ah, saya akan pergi ke tempat ini!'. Dan pilihan saya tidak merugikan. Akhirnya, tadi siang kami sekeluarga berangkat ke Bandung Selatan, daerah Banjaran desa Cimaung, tempat dimana wisata alam : Gunung Puntang ini berlokasi.

Mulanya, perjalanan menuju Bandung sendiri menemui sedikit hambatan. Jelas saja, di hari libur (yang bertepatan dengan lebaran) ini, Bandung merupakan salah satu objek tempat yang biasa disinggahi warga Jakarta. Sehingga kepadatan yang kami temui di jalan tol, sungguh membuang waktu. Belum lagi udara panas yang menyengat, membuat saya ingin cepat-cepat sampai tujuan. Sayang, apa daya, deretan penuh kendaraan tidak mungkin bisa dilewati oleh mobil kami. Dengan berat hati, kami pun harus ikut mengantri di barisan puluhan mobil tersebut.

Namun, ternyata bukan saja kemacetan yang menjadi pengulur waktu selama perjalanan. Ternyata kelalaian saya tidak membawa majalah tersebut sebagai peta kami menuju tempat tujuan, juga membuat kami berlama-lama di jalan. Tersesat! Ya, karena tidak ada yang tahu dimana letak Gunung Puntang tersebut. Hingga penggunaan internet melalui ponsel saya manfaatkan sedemikian rupa. Tertolonglah, dengan segera perjalanan menjadi lebih terarah berkat kecanggihan teknologi masa kini.

Tiba di Gunung Puntang sendiri, waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Gila! Keberangkatan pukul setengah 10 dan harus tiba di Bandung pukul 3?! Rasanya seperti mustahil tapi itulah kenyataannya T^T
Pertama sampai di Gunung Puntang, saya terheran-heran dengan keadaannya yang ramai dan penuh oleh orang. Belum lagi malah ada kolam renang dan villa kayu. Dimana pohon-pohon besar dan nuansa hijau segar yang saya temui di dalam gambar di majalah tersebut? Saya sempat kecewa karena ternyata tempatnya tidak sesuai dengan yang saya bayangkan, namun ternyata setelah bertanya-tanya, tempat yang saya ingin tuju adalah bumi perkemahan yang letaknya masih 1 km lagi dari tempat yang salah saya tuju.
Jadi, jika anda berencana ke Gunung Puntang dan masih awam dengan lokasi, sebaiknya anda jangan memasuki daerah yang bernama Taman Bougenville Gunung Puntang karena tempatnya berbeda dengan lokasi bumi perkemahannya. Berjalanlah terus hingga bertemu pintu gerbang selanjutnya yang akan membawa anda pada pembayaran karcis senilai 5 ribu/orang (untuk kendaraan juga diwajibkan membayar).

Di lokasi ini terdapat goa peninggalan Belanda, yang bisa dilewati namun sedikit mengerikan. Tetapi dengan adanya pemandu yang membawakan lampu minyak sebagai penerangan (dalam Goa sangat gelap sekali hingga tidak bisa melihat apa-apa), saya merasa cukup tertolong. Ia juga memberi sedikit penjelasan tentang seluk beluk Goa. Jalanan dalam Goa penuh dengan bebatuan, hingga harus berhati-hati ketika berjalan.
Bahkan ketika tiba di ujung jalan keluar Goa, jalanan bebatuan tampak lebih licin karena menurut si pemandu, air itu berasal dari rembesan akar pohon. Pada saat hujan, lokasi itu malah jauh lebih licin dari biasanya.

Selain Goa Belanda dan rumah-rumah orang belanda yang hanya tinggal puing-puing, terdapat juga kolam cinta. Kolam ini sudah agak hancur, namun bentuk hatinya, jika diperhatikan masih cukup jelas. Airnya tidak kering, paling tidak, ketika saya melihatnya kolam tersebut sedang digunakan oleh sekelompok orang yang melakukan outbond. Selain kolam cinta, ada juga air terjun yang bisa dinikmati. Sayang membutuhkan waktu 2 jam untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Jaraknya pun sejauh 3.5 km. Saya tidak punya cukup waktu, meski sangat ingin melakukannya. Tetapi, walaupun tidak bisa melihat air terjun tersebut, di dekat kolam cinta juga terdapat air terjun yang kecil yang bisa dinikmati juga. Airnya dingin dan menyegarkan.



Yang jelas, bumi perkemahan Gunung Puntang sangat indah. Udaranya segar meski saya sempat mencium sedikit adanya asap rokok dan juga udara yang agak berdebu karena jalan untuk mencapai ke sana sedikit berbatu-batu. Pepohonannya rindang, tinggi dan begitu indah. Rasa segar membayar segala kepenatan yang saya rasakan selama tinggal di Jakarta. Seandainya saja waktu banyak tersisa, saya pasti akan merasa betah untuk berjalan-jalan di sekitar sana. Namun, saya cukup puas meski hanya melihat-lihat sebentar keadaan di sana. Setidaknya saya bisa menghirup udara alam yang segar.

1 comment:

grinsant said...

Whoaaa... keren tuh. Jadi pengen kesana. Sayang, tak ada uang dan tak ada teman, heheheh, perlu perencanaan matang.
Emang gitu sih bu kalo pergi jalan-jalan pas libur lebaran. Mengerikan. Coba aja pas lebaran kemaren main ke pantai ancol. Hhihihi...