Saturday, December 11, 2010

Gemuruh Itu Bernama Amarah

debum..., debum..., bunyinya seperti itu.
Dan, gertakannya menggetarkan rongga dada. Hanya saja kamu terhalang oleh satu dan lain hal. Maka itu, matamu pun tertutup untuk bisa merasakan sinyal-sinyal yang ada. Tapi, tahukah kamu ketika gemuruh bernama amarah itu melanda, sekuat tenaga saya berlari.

Karena saya tidak ingin kehilangan kesempatan.

8 comments:

inge / cyber dreamer said...

masih sedikit mencerna... >.<

mba' Clara bisa minta masukan nggak buat cerpen2 aku ^^ di coretaninge(dot)wordpress(dot)com ^^

Elsa said...

berlari mendekat atau menjauh?

hhm.....
penasaran sama lanjutannya

Noor's blog (inside of me ) said...

Penasaran juga nih....Bang Pendi masih coba mencerna apa maksud ungkapan2mu itu Non...
Pakabar...salam hangat & sukses selalu..

indrahuazu said...

jangan terbawa amarah, lari selagi bisa, sebelum amarah datang?

Itik Bali said...

Kadang amarah juga perlu kok mba,,

Nuy said...

berlarilah sebelum kesempatan itu hilang mba.. *halah apaan sih*

Lia_Lovaa said...

bila amarah sedang melanda,terkadang pintu hati jadi tertutupi,,benarkah seperti itu??

Zulfadhli's Family said...

Masih marah Mba? Moga2 sekarang udah reda yah :-)

tapi sekali2 emang bagus dimuntahkan, kalo ga tar jadi bisul hehehe