Friday, October 16, 2009

In Memoriam "Lovely Icul"


17 juli 2009- 16 oktober 2009

Akhirnya Icul pergi juga.
Tadi pagi, Mama bangunin saya. Dia bilang katanya Icul udah nggak ada alias meninggal. Saya yang malas bangun pagi pun langsung bangun dan melihat ke kandangnya. Icul diem. Dipanggil nggak nyahut. Dicolek, ternyata badannya kaku banget. Saya tau Icul udah nggak ada. Tapi saya masih aja berhalusinasi kalau Icul masih bernafas. Saya cuma bisa diam, memperhatikan Icul yang tergolek membelakangi saya dengan tubuh kakunya yang seperti boneka. Matanya tertutup seperti tidur, tapi dia sudah nggak nafas lagi.

Tiba-tiba aja saya ngerasa kehilangannnn banget.
Seperti saya kehilangan seseorang yang sudah begitu dekat dengan saya. Rasanya begitu miris, tapi saya tahu Icul mungkin lebih baik begini. Pergi, daripada dia terus kesakitan nggak bisa makan dan pup berdarah. Saya juga nggak tega liat dia seperti itu.

Mungkin selama ini saya nggak begitu sadar arti kehilangan, tapi kali ini saya benar-benar sadar.

Saya masih inget waktu dia baru pertama kali datang.
Karena diangkut pake mobil dengan perjalanan jauh, Icul yang masih sangat kecil waktu itu cuma bisa tidur selama perjalanan. Saya yang menyetir waktu itu, jadi saya tahu persis gimana dia di dalam mobil. Hingga akhirnya tiba di rumah, dia masih lemes dan pas jalan malah sempoyongan. Mabuk. Ya, dia mabuk kendaraan. Lucuuuu banget waktu itu.

Seiring berjalannya waktu, saya menjadi dekat dengan Icul. Dia paling suka ngikutin saya kemana pun saya jalan. Ke dapur, kamar, ke teras, yah, kecuali ke toilet. Sepertinya dia tahu kalau di sana banyak air, jadi dia memilih menghindari tempat itu. Setiap saya bikin susu untuk dia, Icul pasti nunggu dengan setia di dekat saya, ngeliatin saya mengaduk-aduk cairan kental putih kesukaannya. Dia juga suka mengeorgoti apa pun yang bisa dia gerogoti. Sandal, boneka, kardus, semuanya dia gigit sampai rusak. Kadang saya kesal, tapi saya tahu dia kan masih kecil dan gusinya pasti gatal sekali. Tapi, saya juga sering banget menggendongnya ke sana ke mari, lalu mengajaknya ngobrol apa pun. Dia cuma bisa memandangi saya dengan matanya yang bulat. Seolah-olah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa dan saya pun tidak mengerti. Intinya, saya sudah seperti Ibu baginya.
Satu kalimat yang paling sering saya utarakan padanya adalah, "Sini Icul, come to Mama." Dan dia pun bergerak mengikuti saya. Tapi ada juga pesan-pesan yang sering saya utarakan untuknya, seperti "Icul, kamu kecil banget sih sayang. Cepet besar, ya," dan juga "Nanti kalo Icul dibeliin kalung kalo udah gede badannya."

Papa saya pun sering banget bercanda dengan Icul. Pura-pura mengejar dan ingin memukul pantatnya yang mungil, sehingga Icul lari terbirit-birit lalu bersembunyi di kolong bangku. Kalau sudah begitu saya dan Papa suka tertawa melihat tingkahnya yang lucu.

Selama hampir 4 bulan tinggal bersama, saya hanya beberapa kali mendengar gonggongan Icul yang kata Mama saya suaranya serak-serak becek alias belum jadi. Yah, namanya juga anak kecil, suaranya masih aneh, cempreng-cempreng gimana gitu. Tapi saya suka dengernya.

Yah, meski waktu bersama kami hanya sebentar tapi saya bahagia sekali bisa merawat Icul. Saya bisa mengenal anjing itu. Saya bisa membagi beberapa cerita saya dengannya. Saya bisa bercanda dengannya.

Sebenarnya sebelum Icul benar-benar meninggal saya sudah punya sedikit firasat nggak enak, yang coba saya tekan. Bahkan sejak awal kedatangannya saya merasa bahwa saya tidak akan lama bersama dengannya. Entah kenapa. Tapi untunglah, Icul meninggal setelah saya pernah memeluknya untuk memberi makan. Saya merasa sedikit tenang dan bisa merelakan.

Selamat jalan anakku sayang, Icul.


Prosesi pemakaman Icul :







Saya jadi teringat dengan satu note yang pernah dikirim ke saya via facebook. Berkisah tentang anjig. Saya kopi paste ke sini note nya.

Bagi anjing, tuan-nya adalah sahabat terbaik yang disayang dengan segenap jiwa dan bulu” yg ada padanya. Ketika tuan-nya sedang marah, si anjing pasti kena damprat oleh tuan-nya itu, bahkan tidak jarang si anjing kena tendang. Namun itu tidak masalah bagi si anjing. Ketika saat tuan-nya sedang sedih dan sendiri dan tak ada yang menemani, si anjing setia disampingnya memberikan penghiburan semampunya sebagai seorang sahabat. Ketika tuan-ny sedang BT si anjing yang akan diajak main oleh tuan-nya, dan sebagai seorang sahabat, si anjing tak pernah keberatan diperlakukan apapun untuk menyenangkan tuan-nya, dia tetap setia.

Sampai pada suatu saat tuan-nya punya kucing baru dalam hidupnya, ini membuat hidupnya lebih berwarna, karena karakter si kucing lebih lembut dari si anjing. Si kucing senang dibelai dan membelai tuan-nya terlebih karena kucing ditempatkan di dalam rumah, sementara anjing tempatnya diluar rumah, bagaimana mungkin bisa membelai tuan-nya. Perhatian tuan-nya itu sekarang lebih kepada kucing barunya yang bisa mempesonakan lewat gerak tubuh yang menawan dan rayuan yang memang adalah bakat sikucing.

Kini si anjing tidak bisa memasuki ruang dimana sahabatnya sedang mesranya bersama kucingnya yg baru. Waktu indah yang dulu sering dilewati bersama sudah pudar terkena bulu kucing yang halus. Kini anjing itu hanya bisa menjadi penjaga digaris luar dan tidak boleh memasuki ruang yang bisa dimasuki sikucing. Anjing itu hanya bisa diam menahan sedih dan sepi yang dalam, namun ketika tuan-nya menghampirinya dia berusaha riang karena tak ingin tuan-nya tahu apa yang dirasa olehnya. Tapi yang pasti dia kehilangan namun juga sesungguhnya senang melihat tuan-nya bahagia. Keadaan ini membuat si anjing dilema terhadap perasaanya sendiri. Tangisan si anjing kini hanya bagaikan lolongan di tengah malam yang sepi, tak ada yang mengerti lolongan itu artinya apa bahkan terkesan menakutkan.

Suatu hari anjing itu berusaha menyenangkan tuan-nya dengan benda kesayang tuan-nya, memang saat itu tuan-nya menyenangi pemberian si anjing, namun tampaknya kehadiran si kucing tetap lebih menyenangkan bagi tuan-nya. Si anjing hanya bisa tersenyum kecil.


"aku diciptakan sebagai mahluk yang setia, ketika aku telah menjadi sahabat, aku akan tetap menjadi miliknya, walau aku didera, dipukul, disiksa, dibuang atau mungkin dibunuh, aku akan tetap setia menjadi sahabat. Bahkan ketika aku telah dicampakan dan dia tidak ingin aku kembali, aku masih ada untuknya. Aku tak pantas protes, karena aku adalah anjing, aku tak bisa memiliki karena aku yang dimiliki."

11 comments:

Henny Y.Caprestya said...

turut berduka cita :(
pasti sedih kehilangan si Icul, sampai ada prosesi pemakamannya segala.

salam kenal ya..

Clara said...

iya...makasih Henny ^^
sedih banget soalnya dia udah seperti anak sendiri uhuhuhu...

salam kenal juga

Freya said...

masih 4 bulan udah mati?

wah wah kejamnya dunia.

gw sih di rumah ga boleh punya anjing. Nyokap benci baunya. Uh, jd kepengen punya anjing lagi, tapi nggak mau kalo malah mati.

anjingku dulu namanya Hitam. Kecil, bulunya lebat, dah gitu suka gigitin orang termasuk gw yg sering kasih makan. Pintar pula, karena kalau dia kencing atau beol pasti di kamar mandi.

Hitamku masih hidup, dirawat sepupu, tapi sekarang lagi sakit-sakitan karena udah tua (10 tahun).

Sang Cerpenis bercerita said...

ikut merasa sedih. walau aku gak suka piara hewan tapi aku suka aja liat anjing yg lucu2. tapi sebenarnya takut kalo megang2 mereka. hi hih..salam kenal juga ya.

yans"dalamjeda" said...

hik...hik.....
jd ikut sedih. selamat tinggal icul....

Clara said...

@ines: iya nes, baru sekitar 4 bulan tinggal sama gue, udah...T^T
dunia emang kejam. virus macam apa pula itu yg ngerenggut nyawa Icul-ku.
duh udah tua? kasian ya hitam mu itu..nggak tega deh kalo liat anjing kagak hiperaktif.

@Fanny: anjing itu sahabat yg baik. dia nggak akan gigit kalo udah deket banget sama kita. makasih ya ^^

@yans: makasih ya...jadi makin sedih deh T^T

Inet said...

turut berduka cita -_- ....
aku juga pernah merasakan kepergian binatang peliharaanku...rasanya sedih bgt,...biasanya sering ketemu tiba-tiba dicariin gak ada.. :(

xenosapien said...

Oh, aku baru baca ini, Kurara :(
I'm so sorry. Pasti kemarin itu sedih banget ya.

Clara said...

@inet: iya, sedih ya kalau kehilangan mereka itu...

@xeno: nda apa, xeno. iya kemaren sedih tapi sekarang sudah harus bangkit lagi ^^

Ellious Grinsant said...

yang sabar ya bu... life must go on, anjing must go on juga.. gitu lhooo... wuakakak gazebo.com

ratna wulandari said...

kok aku juga ikut sedih ya..

Icul..we will love u..4 ever deh pokoknya(Psst,,,padahal ketemu aja belom ni..)

T_T